Sabtu, 26 Sep 2026
light_mode
Beranda » Regional » Budaya Healing Anak Muda: Antara Self-Care Sejati atau Gaya Hidup Konsumtif?

Budaya Healing Anak Muda: Antara Self-Care Sejati atau Gaya Hidup Konsumtif?

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Jumat, 24 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Belakangan ini, istilah healing semakin akrab di telinga generasi muda. Dari liburan singkat ke Bali, nongkrong di kafe estetik, hingga sekadar rebahan di kamar dengan lilin aromaterapi, semua bisa disebut healing. Namun, di balik tren tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah budaya healing benar-benar menjadi bentuk self-care, atau justru berkembang menjadi gaya hidup konsumtif yang dibungkus dengan citra “keren”?

Arti Awal Healing yang Kini Bergeser

Secara harfiah, healing berarti proses penyembuhan, baik secara fisik maupun emosional. Namun, makna ini kini meluas menjadi segala bentuk aktivitas yang dianggap mampu memberikan ketenangan dan kebahagiaan sesaat.

Media sosial memainkan peran besar dalam pergeseran makna ini. Unggahan bertema weekend healing dengan latar kopi cantik, pantai berpasir putih, atau vila sejuk di pegunungan, seolah menjadi standar baru kebahagiaan. Akibatnya, banyak anak muda merasa perlu melakukan hal serupa untuk mendapatkan peace of mind.

“Setiap kali lelah, kita tidak lagi sekadar istirahat, tetapi harus healing — seolah butuh pembenaran untuk berhenti dari rutinitas,” tulis penulis artikel, Jeanete Nicole Alicia, siswi Penabur Junior College Kelapa Gading, dalam unggahan di Kumparan, Jumat (24/10/2025).

Tekanan Sosial dan Budaya Produktivitas

Fenomena ini muncul dari tekanan hidup modern. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang menuntut produktivitas tinggi, performa sempurna, dan citra positif di media sosial.

Kondisi ini melahirkan kebutuhan besar untuk beristirahat tanpa rasa bersalah. Healing menjadi simbol dari hak untuk jeda, izin untuk tidak selalu “baik-baik saja.” Namun, dalam praktiknya, healing sering berubah menjadi ajang konsumsi dan pembuktian sosial.

“Banyak orang merasa perlu membeli tiket pesawat, spa mahal, atau kopi premium hanya untuk disebut sedang healing,” tulis Jeanete.

Dari Self-Care ke Konsumerisme Terselubung

Data Google Trends mencatat peningkatan tajam pencarian kata healing place dan retreat Indonesia sejak tahun 2022.

Fenomena ini diikuti dengan melonjaknya industri pariwisata, kafe tematik, serta produk-produk self-care seperti lilin aromaterapi, journaling kit, dan skincare.

Istilah retail therapy atau terapi belanja pun semakin populer — banyak orang merasa membeli barang lucu bisa memperbaiki suasana hati, meski hanya sementara.

Namun, psikolog mengingatkan bahwa self-care sejati bukan diukur dari jumlah uang yang dihabiskan, melainkan dari kesadaran untuk berhenti dan memahami kebutuhan diri sendiri.

Media Sosial dan Ilusi “Hidup Damai”

Platform seperti Instagram dan TikTok memoles citra healing menjadi sesuatu yang aesthetic. Video pantai senja, musik lembut, dan wajah tenang menciptakan narasi visual bahwa ketenangan bisa “dibeli”.

Fenomena ini menimbulkan social comparison  kecenderungan membandingkan hidup dengan orang lain yang tampak lebih bahagia.

Ironisnya, semakin sering mengejar momen seperti itu, semakin muncul rasa “belum cukup bahagia”.

“Kadang orang pergi berlibur bukan untuk menikmati waktu, tetapi demi hasil foto yang layak diunggah. Kalau sepanjang perjalanan yang dipikirkan hanya konten, apakah itu masih healing?” tulis Jeanete dalam refleksinya.

Healing yang Sebenarnya Tidak Harus Mahal

Banyak ahli psikologi menyebut bahwa healing sejati justru sederhana.

Bisa berupa tidur cukup, berjalan santai tanpa ponsel, berbicara jujur dengan teman dekat, atau menulis jurnal pribadi.

Menurut American Psychological Association (APA), aktivitas seperti mindfulness dan istirahat rutin terbukti menurunkan stres dan meningkatkan kebahagiaan jangka panjang. Sayangnya, kegiatan sederhana ini sering dianggap “kurang keren” karena tidak bisa dijadikan konten.

Sisi Positif Tren Healing

Meski sering dikritik, budaya healing tetap memiliki sisi positif.

Tren ini mendorong kesadaran baru tentang pentingnya kesehatan mental di kalangan generasi muda. Jika dulu stres dan burnout dianggap tabu dibicarakan, kini semakin banyak anak muda berani mengaku lelah dan mencari bantuan profesional.

Artinya, di balik citra konsumtif, ada nilai penting yang tumbuh: generasi yang lebih sadar diri, tahu kapan harus berhenti, dan berani memprioritaskan keseimbangan hidup.

Antara Penyembuhan dan Pelarian

Budaya healing ibarat dua sisi mata uang. Ketika dilakukan dengan kesadaran, ia bisa menjadi momen refleksi yang menyembuhkan. Namun, jika dijalani hanya karena tren atau ingin terlihat “tenang” di media sosial, hasilnya justru membuat lelah.

Kebahagiaan sejati bukan berasal dari tempat estetik atau barang mahal, melainkan dari pikiran yang tenang dan hati yang menerima.

Sebelum berkata “healing dulu”, mungkin perlu bertanya: apakah ini benar-benar penyembuhan, atau hanya pelarian sesaat?

  • Penulis: syaiful amri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy Bebas dari Penjara

    Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy Bebas dari Penjara

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy bebas dari penjara. Pengadilan Prancis menyetujui permintaan pembebasan Presiden Prancis periode 2007 hingga 2012 itu, Senin (10/11/2025), atau 20 hari setelah ia mulai menjalani hukuman di Penjara La Santé sejak 21 Oktober lalu untuk menjalani hukuman atas kasus konspirasi kriminal. “Pengadilan menetapkan permohonan pembebasan dapat diterima dan menempatkan […]

  • Mobil Toyota Diklaim Siap Tenggak BBM Campur Etanol 20%

    Mobil Toyota Diklaim Siap Tenggak BBM Campur Etanol 20%

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Produsen otomotif asal Jepang, Toyota mengungkapkan kesiapan perseroan menjelang kebijakan mandatori dari pemerintah Indonesia yang akan mewajibkan campuran BBM dengan etanol 10% (E10). Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, seluruh lini produk Toyota di pasaran saat ini sudah kompatibel dengan BBM campuran etanol 20% alias E20. Alhasil, […]

  • Harga Perak Turun Tajam, Ini Penyebabnya

    Harga Perak Turun Tajam, Ini Penyebabnya

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga perak produk Antam kembali anjlok hari ini, Rabu (18/2/2026). Hal ini disebabkan oleh investor yang menunggu data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tertunda. Dikutip dari laman Logam Mulia, harga perak Antam turun tajam sebesar Rp 2.000 ke level Rp 46.000 per gram. Sebelumnya, harga perak pada Selasa (17/2/2026) melemah sebesar Rp 250 […]

  • Tekiro Mechanic Competition 2026 Raih Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia

    Tekiro Mechanic Competition 2026 Raih Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Tekiro Mechanic Competition 2026 meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai kompetisi keterampilan teknik otomotif dengan peserta sekolah menengah kejuruan (SMK) terbanyak. Ajang yang diselenggarakan oleh PT Altama Surya Anugerah selaku pemegang merek Tekiro ini telah berlangsung sejak 2022. Kompetisi menyasar siswa dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Bisnis Sepeda Motor. […]

  • Perak Antam Kembali Menguat, Segini Harga Terbarunya

    Perak Antam Kembali Menguat, Segini Harga Terbarunya

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga perak produksi Antam terpantau kembali menguat pada Selasa (21/4/2026). Logam mulia berwarna putih ini tercatat mengalami kenaikan yang cukup signifikan, memberikan sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berdasarkan data terbaru dari laman Logam Mulia, harga perak Antam hari ini melonjak sebesar Rp550 ke level Rp51.050 per gram. Angka ini menjadi patokan penting […]

  • BRI Salurkan KPR Subsidi Rp17,13 Triliun hingga Maret 2026, Jangkau 125 Ribu Debitur

    BRI Salurkan KPR Subsidi Rp17,13 Triliun hingga Maret 2026, Jangkau 125 Ribu Debitur

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat perannya dalam mendukung program perumahan nasional melalui penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi. Hingga akhir Maret 2026, BRI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp17,13 triliun kepada lebih dari 125 ribu debitur di seluruh Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perseroan dalam memperluas akses kepemilikan rumah, […]

expand_less