Breaking News
light_mode
Beranda » Regional » Budaya Healing Anak Muda: Antara Self-Care Sejati atau Gaya Hidup Konsumtif?

Budaya Healing Anak Muda: Antara Self-Care Sejati atau Gaya Hidup Konsumtif?

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Jum, 24 Okt 2025
  • comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Belakangan ini, istilah healing semakin akrab di telinga generasi muda. Dari liburan singkat ke Bali, nongkrong di kafe estetik, hingga sekadar rebahan di kamar dengan lilin aromaterapi, semua bisa disebut healing. Namun, di balik tren tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah budaya healing benar-benar menjadi bentuk self-care, atau justru berkembang menjadi gaya hidup konsumtif yang dibungkus dengan citra “keren”?

Arti Awal Healing yang Kini Bergeser

Secara harfiah, healing berarti proses penyembuhan, baik secara fisik maupun emosional. Namun, makna ini kini meluas menjadi segala bentuk aktivitas yang dianggap mampu memberikan ketenangan dan kebahagiaan sesaat.

Media sosial memainkan peran besar dalam pergeseran makna ini. Unggahan bertema weekend healing dengan latar kopi cantik, pantai berpasir putih, atau vila sejuk di pegunungan, seolah menjadi standar baru kebahagiaan. Akibatnya, banyak anak muda merasa perlu melakukan hal serupa untuk mendapatkan peace of mind.

“Setiap kali lelah, kita tidak lagi sekadar istirahat, tetapi harus healing — seolah butuh pembenaran untuk berhenti dari rutinitas,” tulis penulis artikel, Jeanete Nicole Alicia, siswi Penabur Junior College Kelapa Gading, dalam unggahan di Kumparan, Jumat (24/10/2025).

Tekanan Sosial dan Budaya Produktivitas

Fenomena ini muncul dari tekanan hidup modern. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang menuntut produktivitas tinggi, performa sempurna, dan citra positif di media sosial.

Kondisi ini melahirkan kebutuhan besar untuk beristirahat tanpa rasa bersalah. Healing menjadi simbol dari hak untuk jeda, izin untuk tidak selalu “baik-baik saja.” Namun, dalam praktiknya, healing sering berubah menjadi ajang konsumsi dan pembuktian sosial.

“Banyak orang merasa perlu membeli tiket pesawat, spa mahal, atau kopi premium hanya untuk disebut sedang healing,” tulis Jeanete.

Dari Self-Care ke Konsumerisme Terselubung

Data Google Trends mencatat peningkatan tajam pencarian kata healing place dan retreat Indonesia sejak tahun 2022.

Fenomena ini diikuti dengan melonjaknya industri pariwisata, kafe tematik, serta produk-produk self-care seperti lilin aromaterapi, journaling kit, dan skincare.

Istilah retail therapy atau terapi belanja pun semakin populer — banyak orang merasa membeli barang lucu bisa memperbaiki suasana hati, meski hanya sementara.

Namun, psikolog mengingatkan bahwa self-care sejati bukan diukur dari jumlah uang yang dihabiskan, melainkan dari kesadaran untuk berhenti dan memahami kebutuhan diri sendiri.

Media Sosial dan Ilusi “Hidup Damai”

Platform seperti Instagram dan TikTok memoles citra healing menjadi sesuatu yang aesthetic. Video pantai senja, musik lembut, dan wajah tenang menciptakan narasi visual bahwa ketenangan bisa “dibeli”.

Fenomena ini menimbulkan social comparison  kecenderungan membandingkan hidup dengan orang lain yang tampak lebih bahagia.

Ironisnya, semakin sering mengejar momen seperti itu, semakin muncul rasa “belum cukup bahagia”.

“Kadang orang pergi berlibur bukan untuk menikmati waktu, tetapi demi hasil foto yang layak diunggah. Kalau sepanjang perjalanan yang dipikirkan hanya konten, apakah itu masih healing?” tulis Jeanete dalam refleksinya.

Healing yang Sebenarnya Tidak Harus Mahal

Banyak ahli psikologi menyebut bahwa healing sejati justru sederhana.

Bisa berupa tidur cukup, berjalan santai tanpa ponsel, berbicara jujur dengan teman dekat, atau menulis jurnal pribadi.

Menurut American Psychological Association (APA), aktivitas seperti mindfulness dan istirahat rutin terbukti menurunkan stres dan meningkatkan kebahagiaan jangka panjang. Sayangnya, kegiatan sederhana ini sering dianggap “kurang keren” karena tidak bisa dijadikan konten.

Sisi Positif Tren Healing

Meski sering dikritik, budaya healing tetap memiliki sisi positif.

Tren ini mendorong kesadaran baru tentang pentingnya kesehatan mental di kalangan generasi muda. Jika dulu stres dan burnout dianggap tabu dibicarakan, kini semakin banyak anak muda berani mengaku lelah dan mencari bantuan profesional.

Artinya, di balik citra konsumtif, ada nilai penting yang tumbuh: generasi yang lebih sadar diri, tahu kapan harus berhenti, dan berani memprioritaskan keseimbangan hidup.

Antara Penyembuhan dan Pelarian

Budaya healing ibarat dua sisi mata uang. Ketika dilakukan dengan kesadaran, ia bisa menjadi momen refleksi yang menyembuhkan. Namun, jika dijalani hanya karena tren atau ingin terlihat “tenang” di media sosial, hasilnya justru membuat lelah.

Kebahagiaan sejati bukan berasal dari tempat estetik atau barang mahal, melainkan dari pikiran yang tenang dan hati yang menerima.

Sebelum berkata “healing dulu”, mungkin perlu bertanya: apakah ini benar-benar penyembuhan, atau hanya pelarian sesaat?

  • Penulis: syaiful amri

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Naik Lagi, Segini Harga Terbaru Perak Antam

    Naik Lagi, Segini Harga Terbaru Perak Antam

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga perak milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (30/10/2025). Perak Antam menguat hingga Rp 350 menjadi Rp 25.950 per gram dari semula Rp 25.600 per gram. Sementara itu, harga dasar perak Antam murni dengan berat 250 gram dipatok Rp 5.800.000, dengan harga yang termasuk PPN 11% […]

  • ESDM Wajibkan SPBU Swasta Beli Solar Pertamina Mulai April 2026

    ESDM Wajibkan SPBU Swasta Beli Solar Pertamina Mulai April 2026

    • calendar_month Sel, 10 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mewajibkan seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dari PT Pertamina (Persero) mulai April 2026. Kebijakan ini diterapkan sebagai bagian dari upaya pemerintah menghentikan impor solar secara bertahap. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode […]

  • Harga Rusun Subsidi Dikabarkan Naik Tahun 2026, Makin Mahal

    Harga Rusun Subsidi Dikabarkan Naik Tahun 2026, Makin Mahal

    • calendar_month Rab, 24 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) bersiap menaikkan harga rumah susun (rusun) subsidi tahun 2026. Saat ini BP Tapera tengah mengkaji kenaikan harga tersebut dengan Direktorat Jenderal (Ditjen) Kawasan Perkotaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menyampaikan hal itu usai penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of […]

  • BYD Luncurkan Song Ultra EV, Harga Mulai Rp370 Jutaan: Ini Rinciannya!

    BYD Luncurkan Song Ultra EV, Harga Mulai Rp370 Jutaan: Ini Rinciannya!

    • calendar_month 8 jam yang lalu
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – BYD meluncurkan mobil listrik yang dinamai Song Ultra EV pada Kamis (26/3) waktu setempat di China, yang baterainya diklaim dapat diisi daya dari 10 persen ke 97 persen hanya dalam waktu 9 menit. Sementara dari 10 ke 70 hanya 5 menit. Kemudian pada suhu −30°C, waktu pengisian bertambah sekitar 3 menit. Laman Carnewschina […]

  • Awal Tahun Harga Batubara Acuan Bersinar, Semua Kategori Naik

    Awal Tahun Harga Batubara Acuan Bersinar, Semua Kategori Naik

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Tren kenaikan harga batubara sejak akhir tahun terus berlanjut. Terbaru, harga batubara acuan (HBA) untuk periode pertama Januari 2026 juga mengalami kenaikan. Batubara dengan kandungan kalor tertinggi (6.322 GAR) mengalami kenaikan tertinggi. Dari 100,81 USD/ton di periode kedua Desember 2025, naik sebesar 2,49 USD menjadi 103,30 USD. Harga batubara acuan ini ditetapkan berdasarkan […]

  • BRI Kucurkan Kredit Sindikasi Rp 2,2 Triliun untuk Flyover Sitinjau Lauik

    BRI Kucurkan Kredit Sindikasi Rp 2,2 Triliun untuk Flyover Sitinjau Lauik

    • calendar_month Sen, 15 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur nasional. Perseroan turut berpartisipasi dalam fasilitas pembiayaan sindikasi senilai Rp 2,2 triliun untuk proyek strategis Flyover Sitinjau Lauik di Sumatera Barat melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Proyek Flyover Sitinjau Lauik menjadi salah satu infrastruktur yang […]

expand_less