Babak Baru Restrukturisasi Garuda dan WIKA: Suntikan Modal Jumbo Rp44 Triliun
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Jum, 14 Nov 2025
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Pesawat Garuda saat terbang di udara.
JAMBISNIS.COM – Garuda Indonesia (GIAA) dan PT Wijaya Karya (WIKA) memasuki babak baru restrukturisasi jumbo senilai Rp44 triliun, setelah upaya sebelumnya dinilai belum menyentuh persoalan fundamental. Rencana ini mempertegas bahwa langkah penyelamatan tahap pertama belum mampu memulihkan kondisi keuangan dua BUMN tersebut.
Manajemen WIKA menetapkan restrukturisasi lanjutan sebagai pilar transformasi pada 2026, selain program asset recycling dan efisiensi. Langkah ini merupakan kelanjutan dari master restructuring agreement (MRA) senilai Rp20,79 triliun yang disepakati pada 2024.
Sementara itu, Garuda Indonesia mendapatkan persetujuan RUPSLB untuk menerima penyertaan modal Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management melalui private placement. Ini menjadi bagian dari proses penyehatan yang sebelumnya dilakukan pada 2022 ketika utang GIAA berhasil ditekan dari US$10 miliar menjadi US$5 miliar, dan ekuitas membaik meski masih negatif.
Pemerhati BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai restrukturisasi lanjutan ini menunjukkan permasalahan mendasar belum terselesaikan.
Pada WIKA, meski MRA disetujui kreditur, kinerja keuangan justru melemah. Pendapatan yang menurun membuat perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban.
“Selain ekuitasnya negatif, arus kas operasi WIKA juga defisit. Perusahaan ini membutuhkan suntikan modal serta restrukturisasi besar-besaran terhadap entitas usaha di bawahnya yang jumlahnya terlalu banyak dan menjadi beban tambahan,” ujar Herry.
Situasi serupa dialami Garuda Indonesia. Menurut Herry, restrukturisasi tahap pertama hanya memperpanjang tenor pembayaran tanpa menyelesaikan masalah inti.
“Walaupun secara operasional Garuda mencatatkan keuntungan, beban keuangan yang besar membuat kinerja keuangannya tetap rugi,” ungkapnya.
Herry menekankan perlunya restrukturisasi menyeluruh, mencakup sisi keuangan dan model bisnis. Kedua BUMN dinilai harus kembali fokus pada core business. WIKA memiliki hampir 30 entitas anak, sedangkan Garuda sekitar 20 unit bisnis yang dinilai menambah kompleksitas.
Senada, Associate Director BUMN Research Group FEB UI, Toto Pranoto, mengatakan restrukturisasi lanjutan menegaskan persoalan fundamental belum selesai. Tekanan keuangan dinilai bersumber dari lemahnya kinerja bisnis. Dia menilai injeksi modal jumbo Danantara ke Garuda menjadi langkah positif dan sinyal kuat bagi pasar.
Direktur Keuangan WIKA, Sumadi, menyebut perusahaan masih mengkaji skema restrukturisasi yang paling sesuai, termasuk opsi MRA baru dengan perbankan. Koordinasi dengan Danantara juga terus dilakukan untuk mendapatkan dukungan.
Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menyebut persetujuan penyertaan modal sebagai momentum penting dalam pemulihan.
“Dukungan DAM mencerminkan kepercayaan terhadap arah strategis dan visi jangka panjang kami dalam mewujudkan maskapai nasional yang sehat dan berkelas dunia,” ujarnya.
- Penulis: syaiful amri



Saat ini belum ada komentar