AS dan China Masih Dominasi Jumlah Miliarder Global, Negara Kecil Mulai Menyusul
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Kam, 5 Feb 2026
- comment 0 komentar

FOTO/ILUSTRASI
JAMBISNIS.COM – Peta kekayaan global terus mengalami pergeseran seiring meluasnya sumber penciptaan kekayaan baru di berbagai kawasan dunia. Laporan terbaru lembaga keuangan global menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan China masih menjadi dua negara dengan jumlah miliarder terbanyak di dunia, meskipun laju pertumbuhannya mulai bervariasi antarwilayah.
Amerika Serikat menempati posisi teratas dengan lebih dari 900 miliarder, jauh meninggalkan negara lain. Total kekayaan para miliarder di Negeri Paman Sam diperkirakan mencapai hampir US$7 triliun, mencerminkan dominasi AS dalam sektor teknologi, keuangan, dan pasar modal.
China berada di peringkat kedua dengan sekitar 470 miliarder dan kekayaan gabungan US$1,8 triliun. Meski pertumbuhan ekonomi China melambat dibandingkan satu dekade lalu, negara tersebut masih mencatat pertambahan miliarder dua digit, terutama dari sektor teknologi, manufaktur, dan konsumen.
Di posisi berikutnya, India menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dengan hampir 200 miliarder, didorong oleh ekspansi di bidang teknologi, infrastruktur, dan industri manufaktur. Sementara itu, Jerman menjadi negara Eropa dengan jumlah miliarder terbesar, menandai kebangkitan kekayaan dari sektor industri dan keluarga bisnis lama.
Menariknya, sejumlah negara dengan populasi relatif kecil justru memiliki konsentrasi miliarder yang tinggi, seperti Swiss, Hong Kong, dan Singapura. Negara-negara ini memanfaatkan peran sebagai pusat keuangan global dan tujuan relokasi kekayaan internasional.
Di kawasan Asia Tenggara, Singapura mencatat lonjakan signifikan nilai kekayaan miliardernya, bahkan melampaui pertumbuhan beberapa negara maju. Kondisi ini memperkuat posisi Singapura sebagai pusat manajemen kekayaan regional.
Sebaliknya, Indonesia belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Jumlah miliarder nasional tercatat masih terbatas dan total kekayaannya justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan tantangan di sektor komoditas dan pasar keuangan domestik.
Sementara itu di Eropa, pertumbuhan jumlah miliarder berlangsung tidak merata. Jerman mencatat kenaikan tajam, sedangkan negara-negara seperti Inggris dan Prancis relatif stagnan. Di luar pusat ekonomi utama, beberapa negara berkembang justru mencatat lonjakan persentase tertinggi meski dari basis yang kecil.
Laporan tersebut menegaskan bahwa pusat penciptaan kekayaan global kini semakin menyebar, tidak lagi hanya terkonsentrasi di ekonomi besar, meski Amerika Serikat dan China masih memegang kendali utama dalam jumlah absolut.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar