IHSG Anjlok 0,91% ke 7.118 pada 2 April 2026, Sektor Industri Paling Tertekan
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI. IHSG melemah 65,495 poin atau 0,91% ke 7.118,943 pada Kamis (2/4/2026) pagi
JAMBISNIS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (2/4/2026). Hingga pukul 09.09 WIB, IHSG tercatat turun 65,495 poin atau 0,91% ke level 7.118,943. Pelemahan IHSG terjadi seiring tekanan yang melanda hampir seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia. Sektor perindustrian menjadi yang paling tertekan dengan penurunan hingga 2,29%, menjadikannya sektor dengan koreksi terdalam pagi ini.
Selain itu, sejumlah sektor lain juga mengalami pelemahan, di antaranya sektor barang baku, infrastruktur, teknologi, dan energi. Tekanan juga berlanjut ke sektor barang konsumen non-primer, transportasi dan logistik, serta properti dan real estate.
Sektor barang konsumen primer dan keuangan turut berada di zona merah, mempertegas sentimen negatif yang mendominasi pasar saham domestik pada awal perdagangan hari ini.
Di tengah tekanan tersebut, sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang mampu mencatatkan penguatan, dengan kenaikan tipis sebesar 0,27%.
Dari jajaran saham unggulan LQ45, sejumlah saham mencatatkan penurunan signifikan. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi top losers setelah turun 5,45%. Disusul PT Alamitri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang melemah 4,23%, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun 3,77%.
Sementara itu, beberapa saham berhasil mencatatkan penguatan di tengah pelemahan pasar. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memimpin top gainers dengan kenaikan 3,53%. Kemudian PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) naik 2,41%, dan PT Medco Energi Indonesia Tbk (MEDC) menguat 2,08%.
Pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan eksternal dan pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berfluktuasi. Selain itu, aksi ambil untung (profit taking) oleh investor juga menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan indeks.
Investor saat ini cenderung bersikap hati-hati sambil menanti sentimen global dan arah kebijakan ekonomi yang dapat mempengaruhi pasar keuangan.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar