Iran Buka Selat Hormuz untuk Dunia, Kecuali Kapal AS dan Israel
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi
JAMBISNIS.COM – Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap membuka akses pelayaran di Selat Hormuz bagi negara-negara dunia. Namun, jalur strategis tersebut tidak diperbolehkan dilintasi kapal milik Amerika Serikat, Israel, serta sekutu keduanya.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Mesir, Ayman Mohyeldin, seperti dikutip media internasional.
“Selat Hormuz sebenarnya terbuka. Namun jalur itu tertutup bagi kapal tanker dan kapal milik musuh kami, yakni mereka yang menyerang kami dan sekutunya,” ujar Araghchi.
Ia menegaskan bahwa kapal dari negara lain tetap dapat melintasi perairan tersebut tanpa hambatan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi penghubung antara Teluk Persia dan Laut Arab. Jalur ini juga dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia.
Ketegangan di wilayah itu meningkat setelah laporan mengenai serangan udara militer AS terhadap target militer Iran di Pulau Kharg, lokasi yang dikenal sebagai pusat ekspor minyak utama Iran.
Sekitar 90 persen minyak mentah Iran diketahui dimuat dari pulau tersebut sebelum dikirim ke berbagai negara pembeli.
Di tengah konflik yang memanas, muncul pula wacana dari Teheran untuk membatasi lalu lintas kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. Salah satu opsi yang dilaporkan dipertimbangkan adalah mengizinkan pengiriman minyak melalui jalur itu jika transaksi dilakukan menggunakan mata uang yuan China.
Kebijakan tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi Iran dalam mengelola jalur energi global di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah juga memicu gejolak di pasar energi. Harga minyak mentah dunia sempat melonjak hingga 119,50 dollar AS per barel sebelum kembali turun setelah muncul pernyataan bahwa konflik berpotensi mereda.
- Penulis: say say


Saat ini belum ada komentar