IRGC Iran Buru 11.000 Tentara AS di Timur Tengah
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Intelijen IRGC Serukan Perburuan 11 Ribu Tentara AS yang Bersembunyi di Timur Tengah
JAMBISNIS.COM – Ketegangan perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel semakin meningkat. Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC dilaporkan tengah melakukan operasi intelijen untuk melacak keberadaan sekitar 11.000 tentara Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Media Iran yang dikutip oleh Al Jazeera menyebutkan bahwa badan intelijen IRGC telah mengeluarkan seruan kepada masyarakat di kawasan Timur Tengah agar melaporkan keberadaan tentara Amerika yang diduga bersembunyi di hotel maupun tempat tinggal pribadi.
Dalam pesan yang beredar, IRGC meminta warga memberikan informasi secara rinci terkait lokasi pasukan Amerika tersebut.
IRGC menilai keberadaan tentara AS di kawasan itu berpotensi membahayakan masyarakat sipil di tengah meningkatnya konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Organisasi intelijen IRGC menyerukan informasi mengenai pasukan AS di seluruh wilayah,” demikian laporan yang dikutip dari media Iran.
Menurut IRGC, pasukan Amerika disebut berusaha memanfaatkan masyarakat di kawasan Timur Tengah sebagai “perisai manusia” selama konflik berlangsung.
Karena itu, otoritas militer Iran meminta warga tidak memberikan perlindungan kepada tentara Amerika yang berada di sekitar mereka. IRGC bahkan menyebut pasukan Amerika sebagai pihak yang harus diidentifikasi dan dilaporkan keberadaannya kepada otoritas Iran.
Seruan tersebut disampaikan melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk aplikasi pesan Telegram, agar masyarakat dapat segera menyampaikan informasi terkait lokasi persembunyian tentara AS.
Situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini semakin memanas setelah konflik terbuka antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ketegangan meningkat drastis setelah serangan pada 28 Februari lalu yang menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Posisi kepemimpinan Iran kemudian beralih kepada Mojtaba Khamenei, yang langsung menyatakan akan melakukan pembalasan terhadap serangan tersebut.
Dalam pernyataan publiknya, Mojtaba menegaskan Iran tidak akan tinggal diam terhadap serangan yang menewaskan banyak warga dan pemimpin negara itu.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga melontarkan ancaman keras terhadap kepemimpinan baru Iran. Netanyahu bahkan menyatakan akan menargetkan pemimpin tertinggi Iran tersebut jika konflik terus berlanjut. Rangkaian pernyataan keras dari kedua pihak membuat konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel diperkirakan masih akan terus bereskalasi dalam waktu dekat.
- Penulis: say say


Saat ini belum ada komentar