Garuda Indonesia Berhemat, Pangkas Gaji Direksi Hingga Ketatkan Fasilitas Perjalanan
- account_circle -
- calendar_month Sel, 2 Des 2025
- comment 0 komentar

Ilustrasi – Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta. Aksi korporasi PMTHMETD senilai Rp30,4 triliun diharapkan memperkuat permodalan dan mengembalikan ekuitas Garuda ke level positif.
JAMBISNIS.COM – Tekanan finansial yang dialami BUMN kenamaan, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membuat manajemen mengambil sejumlah langkah efisiensi. Upaya efisiensi anggaran di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dimulai dari jajaran direksi.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H Kairupan saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Senin (1/12/2025) membeberkan Garuda berencana memangkas 10 persen gaji direksi. “Kalau kita potong gaji 10 persen, apakah setuju? Ternyata semuanya setuju,” ujar Glenny.
Untuk diketahui Garuda masih menghadapi tekanan likuiditas dan ekuitas negatif sejak restrukturisasi 2021-2024. Langkah lain yang dilakukan adalah tidak ada pencairan tantiem bagi direksi dan komisaris. Ia mengaku diminta menandatangani berkas pencairan tantiem, namun menolak karena kondisi keuangan belum pulih. Ia juga menyinggung situasi fiskal nasional. Pemerintah sedang melakukan pengetatan APBN, sehingga pemberian tantiem kepada perusahaan yang masih merugi dinilai akan memicu respons negatif publik.
“Garuda sedang rugi. Apa kata masyarakat kalau perusahaan sedang rugi kok bagi-bagi tantiem? Mohon maaf saya menolak,” ujarnya dilansir Kompas.com.
Efisiensi tidak hanya menyasar direksi. Glenny menuturkan kebijakan penghematan fasilitas perjalanan mulai diberlakukan. Ia menyinggung kasus staf perwakilan Garuda di Jepang yang keberatan atas penurunan kelas tiket. Glenny memerintahkan pergantian staf tersebut dan menyederhanakan jumlah perwakilan luar negeri. Kini hanya satu perwakilan ditempatkan, sementara tenaga lokal akan diberdayakan untuk menekan biaya.
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, mencatat penghematan dilakukan pada operasional penerbangan. Ia mencontohkan penghematan avtur melalui prosedur taxiing dengan satu mesin pesawat yang dinilai mampu menghemat hingga 21 juta liter avtur. Thomas membenarkan rencana pemotongan gaji direksi. Waktu penerapannya masih dirumuskan. “Yang sudah pasti sudah disampaikan dalam rapat. Itu akan menjadi patokan ke depannya,” ucapnya.
Pada November 2025, GIAA menerima penyertaan modal Rp 23,67 triliun dari Danantara Asset Management (DAM), badan pelaksana di bawah Badan Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Suntikan modal itu disetujui dalam RUPSLB Garuda pada 12 November 2025. Tanpa tambahan modal, Garuda berisiko sulit mengakses pembiayaan eksternal dan menghadapi potensi delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Danantara mencatat banyaknya pesawat grounded terus membebani biaya Garuda Indonesia dan Citilink. Managing Director Non Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, menjelaskan pesawat dalam kondisi grounded menciptakan beban ganda. Pesawat tidak menghasilkan pendapatan karena tidak dapat terbang, sementara biaya tetap seperti sewa pesawat tetap berjalan.
- Penulis: -


Saat ini belum ada komentar