Investasi Merangin Tertinggal, Kopi, Sawit, dan Kulit Manis Bisa Jadi Pintu Hilirisasi
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Petani Kopi di Merangin.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rendahnya realisasi investasi Kabupaten Merangin yang tercatat Rp53 miliar hingga triwulan II 2026 menjadi pengingat bahwa kekayaan komoditas belum tentu otomatis menarik modal dalam jumlah besar. Peluang berikutnya terletak pada hilirisasi: mengolah hasil perkebunan dan pertanian menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Sebagai pembanding, Kabupaten Tebo mencatat realisasi investasi Rp723 miliar pada periode yang sama. Secara keseluruhan, investasi Provinsi Jambi mencapai Rp4,2 triliun hingga triwulan II 2026, dengan kelompok tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan sebagai sektor utama.
Merangin memiliki sejumlah komoditas yang dapat dikembangkan melalui pengolahan, antara lain kopi robusta, kelapa sawit, kulit manis, dan nilam. Namun, peluang tersebut memerlukan dukungan pasokan yang konsisten, standar mutu, fasilitas pengolahan, akses pasar, dan pembiayaan usaha.
BPS Kabupaten Merangin telah menerbitkan publikasi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Merangin Menurut Lapangan Usaha 2021–2025 pada April 2026. Publikasi ini menjadi rujukan untuk membaca struktur ekonomi dan perkembangan berbagai lapangan usaha daerah. BPS juga mencatat ekonomi Merangin tumbuh 4,58 persen secara tahunan pada triwulan I 2026.
Bupati Merangin M. Syukur sebelumnya menyampaikan dukungan terhadap pengembangan sawit berkelanjutan dan hilirisasi melalui program B-50. Dalam pernyataannya pada Juli 2026, ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri agar sawit tidak hanya menjadi komoditas mentah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Di luar investasi skala besar, akses pembiayaan juga menjadi faktor penting. Pada Juni 2026, Pemkab Merangin bersama Otoritas Jasa Keuangan memperkuat komitmen Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Program tersebut mencakup dukungan modal bagi usaha lokal, termasuk usaha katering, perkebunan sawit, perdagangan, dan jasa.
Bank Indonesia mencatat kredit korporasi Provinsi Jambi tumbuh 14,55 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Namun, pertumbuhan kredit sektor pertanian hanya 0,75 persen, sedangkan kredit sektor industri tumbuh 19,44 persen. Data provinsi ini tidak menggambarkan penyaluran kredit khusus di Merangin, tetapi menunjukkan pentingnya melihat pembiayaan berdasarkan kebutuhan sektor usaha.
Bagi Merangin, strategi hilirisasi perlu dimulai dari pemetaan komoditas, kapasitas produksi, kebutuhan mesin, calon pembeli, dan kebutuhan modal. Unit pengolahan kopi, penyulingan nilam, pengolahan kulit manis, hingga industri turunan sawit bisa menjadi peluang jika pasokan dan pasarnya terukur.
Selisih investasi dengan Tebo seharusnya menjadi dorongan untuk memperbaiki kesiapan proyek. Modal akan lebih mudah masuk ketika investor melihat peluang usaha yang jelas, risiko yang dapat dihitung, serta rantai pasok yang mampu berjalan secara berkelanjutan.
- Penulis: say say
