Kabut Asap Ganggu Aktivitas Ekonomi Jambi, UMKM Hadapi Risiko Penurunan Pendapatan
- account_circle say say
- calendar_month 12 jam yang lalu
- print Cetak

Kabut asap akibat karhutla masih menyelimuti wilayah provinsi jambi dan sangat menggu pelaku UMKM.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi tidak hanya mengganggu kesehatan dan jarak pandang. Memburuknya kualitas udara juga mulai memberi tekanan terhadap aktivitas ekonomi, terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mengandalkan kunjungan konsumen secara langsung. Pada Senin (5/10/2026), Pemerintah Kota Jambi menyebut ISPU sempat menembus angka 300, setelah dalam beberapa bulan sebelumnya berada di bawah angka tersebut. Pemkot Jambi mulai menyiapkan langkah antisipasi apabila kualitas udara kembali memburuk.
BMKG Sultan Thaha Jambi sebelumnya mencatat ISPU parameter PM2,5 di Kota Jambi berada pada kisaran 133–198 pada 3 Oktober 2026, atau kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Masyarakat, terutama kelompok rentan, diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Dampak terhadap aktivitas ekonomi mulai terlihat dari sisi mobilitas. Kabut asap juga mengganggu operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi pada awal Oktober karena jarak pandang menurun dan sejumlah penerbangan mengalami penundaan.
Gubernur Jambi Al Haris mengatakan gangguan penerbangan dapat berdampak terhadap kegiatan ekonomi karena pelaku usaha dari luar daerah mengandalkan penerbangan untuk datang ke Jambi.
Bagi UMKM, gangguan mobilitas tersebut dapat merambat ke penjualan. Warung makan, kedai kopi, pedagang kaki lima, pasar, pusat kuliner dan usaha yang mengandalkan aktivitas luar ruang berpotensi kehilangan sebagian kunjungan ketika masyarakat memilih mengurangi aktivitas di luar rumah.
Namun, belum terdapat data resmi yang menunjukkan berapa persen omzet UMKM Jambi turun akibat kabut asap pada 6 Oktober 2026. Karena itu, dampaknya terhadap pendapatan UMKM lebih tepat disebut sebagai potensi penurunan omzet, bukan angka pasti.
Kondisi ini terjadi ketika sektor perdagangan dan konsumsi masih menjadi bagian penting perekonomian Jambi. Bank Indonesia mencatat ekonomi Provinsi Jambi tumbuh 4,15 persen pada triwulan II 2026, sementara kredit sektor perdagangan dan industri tetap tumbuh. BI juga mencatat perlambatan konsumsi rumah tangga seiring perlambatan beberapa lapangan usaha utama.
Di sisi lain, BPS mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi salah satu lapangan usaha dengan penambahan jumlah pekerja terbesar pada Februari 2026, yakni bertambah 19,38 ribu orang dibandingkan setahun sebelumnya.
- Penulis: say say
