Buat Gen Z Jambi, Makan Bukan Cuma Soal Rasa: Tempatnya Harus Bisa Jadi Konten
- account_circle say say
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Tempat nongkrong ala Gen Z.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Perubahan perilaku Generasi Z ikut menciptakan wajah baru bisnis kuliner di Kota Jambi. Tempat makan tidak selalu hadir dalam bentuk restoran atau coffee shop dengan investasi besar. Di sisi lain, muncul pula tongkrongan sederhana di pinggir jalan yang menawarkan Wi-Fi, makanan ringan, minuman hingga ruang santai dengan kursi sederhana.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat 2025 menggunakan Susenas Maret 2025 untuk menyajikan indikator sosial ekonomi, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi hingga tingkat kabupaten/kota.
Kondisi tersebut menjadi konteks penting bagi bisnis yang menyasar konsumen muda. Internet dan media sosial membuat tempat makan tidak hanya menjadi titik transaksi, tetapi juga ruang untuk bekerja, berkomunikasi dan membuat konten.
Fenomena tersebut terlihat dari berkembangnya berbagai format tongkrongan di Kota Jambi. Selain coffee shop, terdapat usaha kuliner sederhana di pinggir jalan yang menyediakan Wi-Fi, teh talua, kopi, makanan ringan hingga menu yang disesuaikan dengan selera anak muda.
Model bisnisnya pun beragam. Ada yang menggunakan ruko sewaan, menyewa lahan kosong di tepi jalan, memanfaatkan halaman atau ruang usaha terbuka, hingga menyediakan area duduk sederhana di sekitar lokasi usaha.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa experience economy tidak identik dengan tempat mahal atau desain premium. Bagi konsumen Gen Z, pengalaman dapat muncul dari hal sederhana: bisa duduk lama, tersedia Wi-Fi, makanan terjangkau, suasana santai dan tempat yang mudah ditemukan.
Dengan demikian, sebuah bisnis dapat menciptakan nilai bukan hanya melalui produk, tetapi melalui fungsi ruang yang diberikan kepada konsumen. Bagi pelaku usaha, fenomena ini membuka berbagai model bisnis dengan skala investasi berbeda. Ruko, lahan kosong maupun konsep semi-outdoor dapat diubah menjadi ruang konsumsi selama mampu menjawab kebutuhan pasar.
Namun, aspek legalitas lokasi, keamanan, kebersihan dan akses pejalan kaki tetap menjadi faktor penting, terutama bagi usaha yang menggunakan ruang publik atau area di sekitar trotoar.
Pada akhirnya, persaingan bisnis kuliner Gen Z di Jambi tidak hanya terjadi antara restoran dengan restoran. Persaingan juga muncul antara coffee shop, ruko, lahan terbuka dan tongkrongan pinggir jalan.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar “berapa mahal tempatnya?”, tetapi “apa alasan konsumen mau datang, duduk lama dan kembali lagi?”
- Penulis: say say
