Sejarah Taman Setiti Jambi, Dulu Primadona Wisata Keluarga, Kini Tinggal Kenangan
- account_circle say say
- calendar_month 57 menit yang lalu
- print Cetak

Dokumentasi dan informasi visual dari kanal YouTube DORiTV.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Ada masa ketika liburan keluarga di Jambi tidak perlu mahal. Tidak ada mal, wahana modern, atau tempat rekreasi seperti sekarang. Cukup membawa anak-anak, menyiapkan bekal, lalu berangkat ke Taman Wisata Indah Setiti di kawasan Muaro Pijoan.
Bagi mereka yang pernah tumbuh pada era 1980-an hingga 2000-an, nama Setiti mungkin masih terasa akrab. Tempat ini pernah menjadi salah satu tujuan wisata keluarga yang ramai, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.
Taman Setiti disebut mulai dibangun sekitar 1984. Saat itu, kawasan tersebut masih masuk wilayah Kabupaten Batanghari. Setelah pemekaran, lokasinya kini berada di Kabupaten Muaro Jambi, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Jambi.
Yang membuat Setiti begitu membekas adalah kesederhanaannya. Tiket masuknya dulu hanya Rp50.
Dengan uang receh itu, anak-anak sudah bisa mendapatkan pengalaman yang mungkin sulit dilupakan. Bahkan keseruan dimulai sejak pintu masuk. Di dekat loket karcis terdapat gambar karakter kartun seperti Bobo dan Donald Bebek, yang pada zamannya begitu akrab dengan dunia anak-anak.
Masuk ke dalam, ada danau buatan dengan sepeda air dan sampan. Anak-anak bisa mengayuh di atas air, sementara orang tua menikmati suasana taman.
Di berbagai sudut berdiri patung-patung hewan. Ada harimau, jerapah dan sejumlah patung hewan lainnya. Bagi anak-anak, tempat itu terasa seperti dunia kecil yang penuh kejutan, lalu ada goa hantunya juga dengan gigi taring yang panjang, dan sekarang goa ini jadi sarang ular, hal ini berdasarkan keterangan warga sekitar yang pernah lihat ular di dalam goa.
Goa buatan dengan taring di bagian depannya itu menjadi salah satu tempat yang paling mengundang rasa penasaran. Ada yang berani masuk, ada yang memilih menunggu di luar. Justru rasa takut itulah yang kemudian menjadi cerita ketika pulang.
Salah satu peninggalan taman Setiti yang masih bertahan adalah patung putri air mancur. Bentuknya masih relatif utuh, tetapi warnanya kini buram. Tidak lagi seperti taman yang dahulu dirawat dan dipenuhi pengunjung. Namun jika lama lama di lihat patung tersebut terasa hidup.
Hari ini, sebagian kawasan Taman Setiti telah berubah menjadi semak belukar. Di bagian belakang, perkebunan sawit juga menjadi pemandangan yang mengelilingi kawasan tersebut. Sekitar 2009, aktivitas Taman Setiti disebut mulai berhenti. Catatan perjalanan pada 2012 menyebut taman itu telah tutup sekitar tiga tahun dan membutuhkan renovasi besar jika ingin kembali dibuka. Memasuki 2014, kawasan tersebut bahkan mulai disebut sebagai eks Taman Setiti dalam pemberitaan media massa saat itu.
Kini tak ada lagi antrean membeli tiket Rp50, suara anak-anak di sepeda air, atau keluarga yang sibuk mencari tempat duduk. Yang tersisa adalah patung-patung tua, semak belukar dan kenangan. Namun bagi mereka yang pernah merasakan masa kejayaannya, Setiti bukan sekadar taman wisata yang tutup. Setiti adalah potongan masa kecil ketika liburan sederhana bisa terasa begitu istimewa.
- Penulis: say say
