Rupiah Balik Melemah! Dibuka Tembus Rp18.075 per Dolar AS
- account_circle -
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali kehilangan tenaga. Setelah sempat menguat pada penutupan sebelumnya, mata uang Indonesia berbalik melemah saat mengawali perdagangan Kamis (30/7/2026).
Rupiah dibuka terdepresiasi tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp18.075 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini sekaligus mengakhiri tren penguatan yang terjadi pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Mengutip Antara, posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan Rabu (29/7/2026) yang berada di level Rp18.073 per dolar AS.
Di sisi lain, pergerakan mata uang Negeri Paman Sam juga cenderung stabil. Indeks dolar AS tercatat berada di posisi 100,880, setelah sebelumnya mengalami pelemahan cukup tajam sebesar 0,52 persen.
Pelemahan dolar AS terjadi sebagai respons pasar terhadap keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya. Sikap The Fed yang masih berhati-hati membuat pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan moneter berikutnya.
Rupiah sebetulnya tengah mendapatkan angin segar dari dinamika eksternal pada perdagangan hari ini, terutama pelemahan dolar AS di pasar global setelah pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada rentang 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan mayoritas pelaku pasar.
Dolar AS kemudian melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Keputusan The Fed mempertahankan bunga mengurangi sebagian ekspektasi pasar terhadap pengetatan moneter dalam waktu dekat.
Namun, keputusan tersebut tidak diambil secara bulat. Tiga dari 12 anggota FOMC memilih berbeda dan menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini.
The Fed menilai tingkat suku bunga saat ini masih cukup tinggi untuk menahan aktivitas ekonomi dan menurunkan tekanan inflasi. Bank sentral juga memperkirakan kenaikan harga akibat tarif impor dapat mereda dengan sendirinya.
Meski suku bunga dipertahankan, arah kebijakan The Fed berikutnya menjadi lebih sulit ditebak. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa bank sentral tidak akan lagi memberikan petunjuk atau forward guidance mengenai arah suku bunga.
“Saya memahami keinginan agar komite ini memberikan proyeksi dan komentar mengenai arah kebijakan. Namun bagi kami, yang terpenting adalah mengamati bagaimana pasar bereaksi terhadap perkembangan yang terjadi secara langsung tanpa filter,” ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.
Warsh memastikan The Fed tetap siap bertindak apabila diperlukan untuk mengembalikan inflasi menuju sasaran 2%. Menurutnya, keputusan FOMC memiliki dampak sangat besar terhadap perekonomian sehingga setiap langkah harus diambil berdasarkan perkembangan data terbaru.
Ketiadaan forward guidance membuat perhatian pasar berikutnya tertuju pada data inflasi dan pasar tenaga kerja AS. Data-data tersebut akan menjadi bahan utama untuk membaca peluang perubahan suku bunga pada pertemuan FOMC selanjutnya.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua

