Kulit Pinang di Muaro Jambi Disulap Jadi Briket, Jadi Peluang Usaha Ibu-ibu PKK
- account_circle say say
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

Kulit Pinang di Muaro Jambi Disulap Jadi Briket.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kulit pinang yang selama ini hanya dibakar atau dibiarkan membusuk di Desa Kunangan, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, kini mulai memiliki nilai ekonomi. Limbah perkebunan tersebut diolah menjadi briket arang, bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti arang konvensional.
Inovasi itu diinisiasi mahasiswa KKN Reguler UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi yang melaksanakan pengabdian di Desa Kunangan. Program tersebut mendapat apresiasi saat LPPM UIN STS Jambi melakukan monitoring dan evaluasi desa-desa lokasi KKN di Kabupaten Muaro Jambi pada 26 Juli 2026.
Mayoritas masyarakat Desa Kunangan bekerja sebagai petani padi dan pinang. Bagi petani, buah pinang memiliki nilai ekonomi. Namun, kulit buah pinang yang dihasilkan setiap musim panen justru belum banyak dimanfaatkan.
Volume limbah yang cukup besar membuat kulit pinang kerap berakhir dengan cara dibakar atau dibiarkan menumpuk dan membusuk. Mahasiswa KKN kemudian melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Kulit pinang memiliki kandungan alfa-selulosa sekitar 53 persen dan dinilai sesuai untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku briket arang. Proses pengolahan dimulai dengan mengeringkan kulit pinang. Setelah kering, kulit pinang dikarbonisasi hingga berubah menjadi arang. Arang kemudian dihaluskan menjadi serbuk sebelum dicampur dengan perekat alami, seperti tapioka atau molase.
Campuran tersebut kemudian dicetak dan dikeringkan hingga menghasilkan briket yang siap digunakan. Dalam proses pengujian yang dilakukan dalam program tersebut, kadar air briket tercatat berada pada kisaran 4,82–6,36 persen.
Angka tersebut disebut memenuhi standar SNI 01-6235-2000. Kadar air menjadi salah satu faktor penting dalam kualitas briket. Semakin rendah kadar air, briket cenderung lebih mudah menyala, menghasilkan lebih sedikit asap, dan memiliki daya tahan pembakaran yang lebih baik.
Program mahasiswa KKN tidak berhenti pada pembuatan produk. Mahasiswa juga memberikan pelatihan kepada ibu-ibu PKK Desa Kunangan agar mampu memproduksi briket secara mandiri.
Langkah tersebut diharapkan membuat inovasi pengolahan limbah kulit pinang tetap berjalan meski masa KKN mahasiswa telah berakhir.
Briket yang dihasilkan diarahkan untuk menyasar sejumlah pelaku usaha makanan, terutama pedagang sate, sosis bakar, ikan bakar, dan jagung bakar.
Produk tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif penggunaan arang sekaligus memberikan pilihan bahan bakar yang lebih ekonomis bagi pelaku usaha.
Pemanfaatan kulit pinang menjadi briket dinilai memiliki dua manfaat utama, yakni lingkungan dan ekonomi.
Dari sisi lingkungan, pengolahan limbah dapat mengurangi praktik pembakaran terbuka yang berpotensi menimbulkan polusi udara.
Sementara dari sisi ekonomi, kegiatan tersebut membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu PKK sekaligus berpotensi menambah pendapatan keluarga petani pinang.
Konsep tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengubah limbah menjadi produk yang kembali memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Model pemanfaatan kulit pinang menjadi briket juga disebut telah lebih dahulu dikembangkan di sejumlah wilayah di Sumatera Utara hingga Aceh dengan hasil yang menjanjikan.
Koordinator Pusat Pengabdian Masyarakat LPPM UIN STS Jambi, Mukhlis, M.Pd.I., berharap program tersebut dapat terus dikembangkan oleh masyarakat sehingga memberikan dampak ekonomi secara berkelanjutan.
Di antaranya konsistensi produksi dan kualitas oleh ibu-ibu PKK, perluasan akses pasar, pendampingan dari pemerintah desa, dinas terkait maupun perguruan tinggi, serta dukungan peralatan produksi.
Bantuan alat cetak hingga pelatihan pengemasan dan pemasaran juga dinilai penting agar produk mampu berkembang dan memiliki daya saing.
Selain itu, standarisasi mutu perlu dijaga agar kualitas briket yang diproduksi masyarakat tetap konsisten.
Jika faktor tersebut dapat dipenuhi, briket kulit pinang di Desa Kunangan tidak hanya berhenti sebagai program pengabdian mahasiswa.
Limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai tersebut berpotensi berkembang menjadi usaha rumahan berkelanjutan yang mampu mengurangi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
- Penulis: say say
