Harga Ayam Anjlok, Kementerian Pertanian RI Minta Produksi DOC dan Pakan Dikendalikan
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Harga ayam hidup (livebird) yang berada di bawah level keekonomian peternak.
JAMBISNIS.COM – Kementerian Pertanian RI mendorong penyesuaian produksi di sektor hulu industri perunggasan menyusul tekanan harga ayam hidup (livebird) yang berada di bawah level keekonomian peternak. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementan, Hary Suhada, mengatakan struktur biaya produksi saat ini menunjukkan margin peternak semakin tertekan.
Ia menyebut, estimasi harga pokok produksi (HPP) nasional berada di kisaran Rp19.500 hingga Rp21.000 per kilogram livebird, tergantung skala usaha dan efisiensi masing-masing peternak.
“Jika harga turun di bawah Rp19.000 per kilogram, kondisi tersebut sudah tidak sehat bagi peternak, terutama peternak mandiri,” ujarnya, Kamis (16/4).
Tekanan harga ayam ini dipicu oleh kelebihan pasokan pasca Lebaran yang diperkirakan mencapai 5% hingga 10% dari kebutuhan normal mingguan, khususnya di Pulau Jawa.
Penurunan serapan pasar setelah periode puncak konsumsi Lebaran turut memperparah kondisi tersebut. Selain itu, lonjakan produksi akibat tingginya chick in tiga hingga empat minggu sebelum Lebaran menyebabkan panen terjadi secara bersamaan.
Untuk menyeimbangkan pasar, pemerintah meminta pelaku usaha, termasuk produsen day old chicken (DOC) dan pakan, melakukan penyesuaian produksi dalam jangka pendek.
Kementan menargetkan penurunan pasokan DOC final stock sekitar 5% hingga 7% sebagai langkah awal stabilisasi harga.
Pengendalian produksi difokuskan pada level breeding farm dan hatchery, termasuk penyesuaian produksi telur tetas (hatching egg/HE) serta afkir dini indukan.
Selain itu, pemerintah juga memperketat pengawasan pemasukan Grand Parent Stock (GPS) guna mencegah lonjakan produksi di hilir.
Kementan menegaskan penguatan pengawasan dilakukan melalui peningkatan pelaporan realisasi produksi di seluruh rantai pasok, mulai dari GPS, parent stock (PS), hingga DOC, serta sinkronisasi data antara pemerintah dan pelaku usaha.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar