Rp6,59 Triliun Belum Bergerak, Bendungan Merangin Masih Sebatas Rencana
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Proyek Bendungan Merangin di Jambi bernilai investasi Rp6,59 triliun digadang menjadi bendungan multiguna untuk irigasi, PLTA, pengendalian banjir, dan air baku. Namun hingga pertengahan 2026, proyek strategis ini belum memasuki tahap konstruksi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Di atas kertas, Bendungan Merangin merupakan salah satu proyek infrastruktur terbesar yang pernah direncanakan di Provinsi Jambi. Nilai investasinya mencapai Rp6,59 triliun, menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta diproyeksikan menjadi bendungan multiguna yang mampu mengendalikan banjir, mengairi ribuan hektare sawah, menyediakan air baku, hingga menghasilkan listrik.
Namun hingga pertengahan 2026, megaproyek yang dirancang sejak beberapa tahun lalu itu masih belum memasuki tahap pembangunan fisik. Status proyek masih berada pada tahapan penyiapan dan proses pengadaan melalui skema KPBU.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kapan proyek benar-benar dimulai, mengingat manfaat ekonomi yang dijanjikan sangat besar bagi Kabupaten Merangin maupun Provinsi Jambi.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum, Bendungan Merangin berada di Desa Simpang Parit, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin.
Proyek ini menggunakan skema Design, Build, Finance, Operate, Maintenance and Transfer (DBFOMT) dengan masa konsesi 36 tahun. Nilai investasi indikatif mencapai Rp6,59 triliun, sedangkan nilai konstruksinya diperkirakan sekitar Rp5,14 triliun. Skema pengembalian investasi dilakukan melalui Availability Payment (AP) dari pemerintah.
Artinya, pemerintah tidak membayar seluruh pembangunan di awal. Badan usaha terlebih dahulu membangun dan mengoperasikan infrastruktur, kemudian pemerintah melakukan pembayaran sesuai tingkat layanan yang diberikan.
Pemerintah merancang Bendungan Merangin bukan sekadar sebagai tampungan air. Dalam dokumen proyek, bendungan tersebut diproyeksikan memiliki berbagai fungsi strategis, antara lain:
- Mengurangi risiko banjir di wilayah Merangin
- Menyediakan air irigasi sekitar 5.244 hektare lahan pertanian (sejumlah dokumen awal menyebut hingga 12.000 hektare berdasarkan desain awal)
- Menyediakan air baku bagi sistem penyediaan air minum
- Mendukung pembangunan PLTA berkapasitas sekitar 95–107 MW
- Mengembangkan kawasan wisata dan budidaya perikanan air tawar
Apabila seluruh manfaat tersebut terealisasi, Bendungan Merangin diperkirakan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah barat Provinsi Jambi.
Meski telah lama masuk daftar proyek prioritas KPBU nasional, perkembangan di lapangan belum menunjukkan dimulainya konstruksi.
Dokumen resmi Simpul KPBU mencatat proyek telah melalui berbagai tahapan studi kelayakan, penyusunan Final Business Case, hingga persiapan transaksi. Namun target-target awal yang pernah dipasang, seperti konstruksi mulai 2025, belum tampak terealisasi. Status proyek pada portal KPBU pemerintah masih menunjukkan proses penyiapan dan transaksi.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Merangin mengungkapkan bahwa sejumlah pekerjaan pendahuluan harus diselesaikan terlebih dahulu, mulai dari penetapan lokasi (penlok), penyelesaian dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), hingga pengadaan lahan bagi area bendungan dan wilayah terdampak genangan.
Berbeda dengan bendungan yang sepenuhnya dibiayai APBN, Bendungan Merangin mengandalkan skema KPBU.
Skema ini memungkinkan pemerintah menggandeng investor swasta untuk membiayai pembangunan. Namun prosesnya jauh lebih kompleks karena harus melalui studi kelayakan, penjaminan pemerintah, penyusunan dokumen transaksi, pemilihan badan usaha, financial close, hingga kepastian pembiayaan.
Dalam proyek ini, pemerintah juga menyiapkan berbagai bentuk dukungan, antara lain fasilitasi pengadaan tanah melalui LMAN, penjaminan oleh PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII), serta pendampingan Project Development Facility (PDF) dari Kementerian Keuangan bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).
Selain meningkatkan produktivitas pertanian melalui pasokan air irigasi, bendungan juga berpotensi menyediakan listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), memperkuat ketahanan air bersih, mengurangi risiko banjir tahunan, hingga membuka peluang sektor pariwisata dan perikanan.
Bagi Kabupaten Merangin yang selama ini bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan, keberadaan bendungan tersebut diyakini dapat menjadi infrastruktur pengungkit pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Sumber: Simpul KPBU Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum Kementerian Pekerjaan Umum
- Penulis: say say
