Bursa Global Cetak Rekor, Harga Minyak Turun Usai Harapan Kesepakatan Selat Hormuz
- account_circle say say
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

Bursa saham global mencetak rekor tertinggi pada Jumat 29 Mei 2026, sementara harga minyak dunia melemah akibat harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dan gencatan senjata AS-Iran.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Bursa saham global kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Di saat yang sama, harga minyak dunia justru bergerak melemah tajam akibat meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
Pasar global bergerak dalam suasana yang kontras. Di satu sisi, investor menyambut positif potensi meredanya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun di sisi lain, harga energi mulai kehilangan tenaga setelah ancaman gangguan pasokan minyak dinilai semakin mengecil.
Sentimen pasar dipicu laporan Reuters yang menyebut Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata serta melonggarkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz. Meski belum sepenuhnya final, pasar langsung bereaksi cepat.
Harapan itu menjadi “angin dingin” bagi pasar energi global yang sebelumnya sempat memanas akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Kontrak berjangka indeks S&P 500 bergerak stabil setelah Wall Street kembali menorehkan rekor penutupan tertinggi. Sementara indeks saham global MSCI juga menyentuh level tertinggi baru, didorong reli saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Bursa Tokyo dan Seoul ikut melesat sekitar 2 persen pada perdagangan pagi. Penguatan saham teknologi menjadi motor utama kenaikan pasar Asia.
Saham Dell Technologies bahkan melonjak 39 persen dalam perdagangan after-hours setelah perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan dan laba. Permintaan server berbasis AI untuk pusat data disebut masih sangat kuat.
Head of Multi-Asset Solutions Federated Hermes Damian McIntyre mengatakan siklus investasi AI masih berada pada fase awal hingga menengah.
“Pasar masih melihat ruang pertumbuhan yang besar untuk sektor AI,” ujarnya.
Ia bahkan menaikkan target indeks S&P 500 ke level 8.000 tahun ini dan 9.000 pada tahun depan.
Sementara itu, harga minyak Brent turun sekitar 50 sen ke level US$ 93,17 per barel. Penurunan tersebut menempatkan minyak di jalur pelemahan mingguan terbesar dalam hampir dua bulan terakhir.
Pasar mulai menghitung kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia. Jika akses pelayaran kembali normal, kekhawatiran gangguan pasokan global diperkirakan akan mereda.
Senior Market Strategist BNZ Wellington Jason Wong menilai pasar saat ini sudah mulai mengasumsikan kesepakatan akan tercapai.
“Risiko terburuk bagi pasar energi mulai berkurang,” katanya.
Meski demikian, ia menilai harga minyak belum akan jatuh terlalu dalam dalam waktu dekat karena ketidakpastian geopolitik masih membayangi kawasan tersebut.
Dari pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turun ke level 4,45 persen. Penurunan terjadi setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan konsumsi masyarakat, pertumbuhan ekonomi, hingga penjualan rumah berada di bawah ekspektasi.
Di pasar mata uang, yen Jepang masih berada di bawah tekanan dan diperdagangkan di kisaran 159,26 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang sebelumnya memicu intervensi otoritas Jepang.
Kementerian Keuangan Jepang dijadwalkan mengumumkan nilai intervensi valuta asing yang diperkirakan mencapai 8,6 triliun yen atau sekitar US$ 54 miliar.
Sementara euro menguat ke level US$ 1,1655 dan dolar Selandia Baru menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar pekan ini setelah bank sentral negara tersebut mempertahankan suku bunga dengan nada kebijakan yang lebih hawkish.
- Penulis: say say

