Bos Saudi Aramco: Pasar Minyak Global Terancam Tak Normal hingga 2027
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin H. Nasser.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Pasar minyak dunia diperkirakan belum akan kembali stabil dalam waktu dekat. Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin H. Nasser, menyebut normalisasi baru mungkin terjadi pada 2027 apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut.
Dalam paparan kinerja kuartal pertama perusahaan, Nasser mengatakan bahwa sekalipun jalur pelayaran itu dibuka saat ini, pasar tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali seimbang. Ia menilai keterlambatan pembukaan hanya beberapa pekan dapat memperpanjang krisis hingga beberapa tahun ke depan.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang menghambat pemulihan. Sebelum konflik meningkat, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Dampak gangguan ini terlihat nyata pada sektor logistik. Lebih dari 600 kapal tanker dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia, sementara ratusan kapal lain menunggu giliran untuk melintas. Kondisi tersebut memicu ketidakseimbangan armada global dan mengganggu rantai pasok energi secara luas.
Nasser memperkirakan pasar kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap pekan sejak jalur tersebut terganggu. Secara kumulatif, kehilangan pasokan telah melampaui 1 miliar barel. Meski demikian, sebagian kerugian berhasil ditekan melalui pengalihan distribusi dan pemanfaatan cadangan minyak strategis.
Sebagai langkah mitigasi, Saudi Aramco mengoptimalkan jalur pipa timur-barat yang mengalirkan minyak ke Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz. Namun kapasitasnya dinilai belum mampu sepenuhnya menggantikan peran jalur laut tersebut.
Di tengah kondisi ini, persediaan minyak global terus menyusut, terutama untuk produk turunan seperti bensin dan bahan bakar pesawat. Situasi tersebut dinilai mengkhawatirkan karena terjadi menjelang musim liburan musim panas, ketika permintaan energi biasanya meningkat.
Nasser menegaskan tekanan terhadap pasokan energi global terus meningkat setiap hari. Ia menyebut gangguan di Selat Hormuz sebagai salah satu guncangan terbesar dalam sejarah modern pasar energi dunia.
- Penulis: say say
