Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel
- account_circle -
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Harga minyak mentah jenis WTI melonjak 4,83 persen dalam sehari menjadi US$100,03 per barel dan Brent melonjak 4,19 persen menjadi US$105,53 per barel. (F:Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Harga minyak mentah dunia terus menunjukkan lonjakan tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pasar energi global kini dibayangi kekhawatiran terganggunya pasokan minyak akibat memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kegagalan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu sentimen utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, ancaman terhadap jalur distribusi energi global membuat pelaku pasar semakin waspada terhadap potensi krisis pasokan.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,83 persen dalam sehari dan menembus level psikologis US$100,03 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent juga ikut terkerek naik. Harga Brent tercatat melonjak 4,19 persen menjadi US$105,53 per barel.
Lonjakan harga minyak terjadi karena investor khawatir konflik geopolitik dapat mengganggu distribusi energi dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi minyak terbesar dunia.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan penguatan harga minyak dipicu oleh penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal nuklir Iran yang dinilai “tidak dapat diterima”.
Kondisi tersebut memudarkan harapan tercapainya deeskalasi konflik dalam waktu dekat.
“Ketegangan ini diperparah oleh laporan serangan drone terhadap kapal kargo di Teluk Persia serta intersepsi serangan udara di wilayah Kuwait dan UEA yang memperkuat kekhawatiran bahwa konflik sepuluh minggu ini akan meluas menjadi perang regional yang lebih terbuka,” ujar Sutopo dikutip dari Kontan, Senin (11/5/2026).
Menurut Sutopo, faktor paling menentukan pergerakan harga minyak dalam jangka pendek adalah kondisi operasional Selat Hormuz yang hingga kini masih terganggu untuk sebagian besar lalu lintas komoditas global.
Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut.
Ia menilai kebuntuan militer yang menghambat pembukaan kembali Selat Hormuz telah menciptakan premi risiko perang (war premium) yang signifikan pada harga minyak.
Selain itu, pasar juga menantikan hasil pertemuan Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini. Pelaku pasar berharap China dapat memainkan peran diplomatik untuk mendorong Iran melunakkan sikap terkait isu fasilitas nuklirnya.
“Hasil dari agenda pertemuan tersebut menjadi variabel kunci karena pasar berharap adanya pengaruh diplomatik China untuk membujuk Teheran agar melunakkan sikapnya terkait fasilitas nuklir,” kata Sutopo.
Ke depan, Sutopo memperkirakan harga minyak masih cenderung tinggi (bullish) dengan volatilitas tinggi.
Minyak WTI diproyeksikan bertahan di atas US$ 100 per barel apabila gangguan distribusi di Selat Hormuz terus berlanjut.
Bahkan, International Energy Agency (IEA) menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi global.
Menurut Sutopo, peningkatan produksi dari Arab Saudi maupun negara anggota OPEC+ lainnya belum mampu secara cepat menggantikan potensi kehilangan pasokan akibat gangguan logistik di kawasan tersebut.
“Jika negosiasi di Beijing gagal menghasilkan kesepakatan konkret, harga minyak berpotensi bergerak ke kisaran US$ 110 hingga US$ 120 per barel pada kuartal ini,” ujar Sutopo.
Sutopo menambahkan, investor juga perlu mencermati sejumlah indikator dalam beberapa pekan ke depan, seperti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan laporan mingguan persediaan minyak mentah dari Energy Information Administration (EIA).
Selain itu, perkembangan keamanan jalur pelayaran di wilayah Qatar dan Uni Emirat Arab juga akan menjadi indikator penting bagi stabilitas pasokan energi global.
Menurutnya, setiap pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun Teheran terkait syarat pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi menjadi katalis utama bagi arah pergerakan harga minyak dunia.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
