Rupiah Masuk 5 Besar Mata Uang Terlemah Dunia 2026 Versi Forbes
- account_circle say say
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Rupiah Anjlok.
JAMBISNIS.COM – Majalah bisnis global Forbes merilis daftar mata uang terlemah di dunia pada April 2026. Dalam laporan tersebut, Rupiah Indonesia tercatat berada di posisi kelima berdasarkan nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat.
Penilaian ini mengacu pada kurs per 7 April 2026, dengan Dolar Amerika Serikat sebagai tolok ukur utama. Dalam daftar tersebut, rupiah berada di bawah sejumlah mata uang lain yang lebih tertekan, seperti rial Iran, pound Lebanon, dong Vietnam, dan kip Laos.
Nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp 17.300 dalam beberapa waktu terakhir. Posisi ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi mata uang domestik di tengah dinamika global.
Di peringkat teratas, rial Iran menjadi mata uang terlemah dengan nilai yang sangat rendah, diikuti oleh pound Lebanon yang tertekan akibat krisis ekonomi berkepanjangan. Sementara itu, dong Vietnam dan kip Laos juga masuk dalam daftar akibat kombinasi faktor perlambatan ekonomi dan tekanan eksternal.
Meski demikian, pemerintah menilai pelemahan rupiah tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor global dan sentimen pasar.
“Pergerakan ini bukan karena fundamental ekonomi kita memburuk. Dibandingkan negara lain, kondisi Indonesia masih relatif kuat,” ujar Purbaya.
Ia menjelaskan, dinamika suku bunga global, ketidakpastian ekonomi dunia, serta ekspektasi pasar menjadi faktor dominan yang memengaruhi nilai tukar. Selain itu, persepsi negatif yang berkembang juga dapat memperkuat tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Pemerintah, lanjut dia, terus berupaya menjaga stabilitas melalui perbaikan kebijakan ekonomi, termasuk penguatan sektor fiskal dan penataan sistem perpajakan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi potensi gangguan yang dapat memicu ketidakpastian di pasar keuangan.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar