Rupiah Loyo Lagi! Ditutup Melemah ke Rp18.137 per Dolar AS, Pasar Cermati Sinyal The Fed
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 27 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Mata uang Indonesia dan dolar AS di gerai pertukaran uang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis. Pergerakan mata uang Indonesia masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan ekonomi Negeri Paman Sam.
Mengutip Antara, rupiah ditutup melemah 47 poin atau 0,26 persen ke level Rp18.137 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.184 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi pernyataan The Fed mengenai arah kebijakan moneter setelah agenda Federal Open Market Committee (FOMC).
The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,75–4,00 persen dalam keputusan pada 28 Oktober waktu Amerika Serikat. Namun, inflasi yang masih tinggi dan belum jelasnya arah kebijakan berikutnya membuat pasar keuangan tetap mencermati perkembangan data ekonomi AS.
“Inflasi AS yang masih tinggi dan belum adanya kepastian mengenai kebijakan suku bunga selanjutnya membuat pergerakan dolar AS tetap sensitif terhadap data ekonomi dan imbal hasil obligasi AS,” ujar Amru.
Keputusan mempertahankan suku bunga tersebut disetujui melalui pemungutan suara FOMC dengan hasil 10 banding 2. Kebijakan itu diarahkan untuk mendukung dua mandat utama bank sentral AS, yakni menjaga stabilitas harga dan mendorong penyerapan tenaga kerja secara maksimal.
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengingatkan bahwa inflasi AS masih berada di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral selama hampir enam tahun. Kondisi tersebut membuat prospek pelonggaran kebijakan moneter masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah perlu dicermati karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor, terutama bahan baku, barang modal, serta komoditas yang transaksinya menggunakan dolar AS. Jika tekanan berlanjut, pelaku usaha berpotensi menghadapi kenaikan biaya pengadaan, meski dampaknya bergantung pada kebutuhan impor dan strategi lindung nilai masing-masing perusahaan.
Amru menyebut pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi arus modal asing, kebutuhan dolar di dalam negeri, serta rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis juga melemah ke level Rp18.128 per dolar AS, dari sebelumnya Rp18.183 per dolar AS.
Perkembangan data inflasi AS dan respons pasar terhadap kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting yang dicermati investor dalam menentukan arah pergerakan rupiah berikutnya.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
