Pertumbuhan Industri Digital Dorong Kebutuhan Data Center di Indonesia
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Kam, 6 Nov 2025
- comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Pertumbuhan industri digital Indonesia terus meningkat seiring kemajuan teknologi artificial intelligence (AI). Berdasarkan proyeksi Bank Dunia, permintaan atas pusat data (data center) di Indonesia diperkirakan meningkat sebesar 16,8 persen per tahun hingga 2029, setara dengan kapasitas 1,41 gigawatt (GW).
Namun, peningkatan kebutuhan tersebut juga diikuti oleh lonjakan konsumsi energi listrik yang cukup besar. Peneliti Ekonomi Tenggara Strategics, Intan Salsabila Firman, menuturkan bahwa kondisi ini menuntut penggunaan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon.
“Indonesia memiliki potensi energi hijau yang melimpah, dan pembangunan green data center dapat mendorong permintaan besar terhadap energi terbarukan,” ujar Intan dalam keterangan resmi, Kamis (6/11/2025).
Meski memiliki ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai mencapai USD 90 miliar pada 2024, kapasitas data center Indonesia baru sekitar 456 megawatt (MW). Jumlah itu masih jauh di bawah Singapura (1,02 GW) dan Malaysia (1,2 GW).
Singapura telah lebih dulu memantapkan diri sebagai hub pusat data regional, sementara Malaysia secara agresif mempercepat pembangunan kapasitas pusat datanya melalui insentif investasi dan kebijakan yang menarik bagi investor global.
“Studi kami menemukan bahwa kesiapan infrastruktur data center Indonesia masih rendah, sehingga investor hyperscaler cenderung kurang tertarik menempatkan investasi baru dibanding negara tetangga,” ungkap Intan.
Intan menambahkan, Indonesia belum memiliki kebijakan khusus yang mengatur pengembangan data center berkelanjutan. Sejumlah operator yang berupaya membangun green data center masih mengacu pada standar bangunan hijau nasional, bukan standar internasional seperti ISO 14001 dan ISO 50001.
Akibatnya, praktik efisiensi energi dan pengelolaan lingkungan di sektor ini belum sejalan dengan standar global.
Padahal, potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 3.686 GW, tetapi aksesnya masih terbatas akibat infrastruktur yang belum merata.
“Penting dilakukan reformasi kebijakan energi terbarukan untuk menarik investasi asing dan mempercepat pembangunan green data center,” jelasnya.
Dari hasil pemodelan konsorsium studi green data center, biaya energi terbarukan di Indonesia masih tergolong tinggi. Saat ini, skema yang paling kompetitif untuk pendanaan energi pusat data dilakukan melalui Renewable Energy Certificate (REC) dari PLN. Namun, sebagian perusahaan hyperscaler lebih memilih koneksi langsung dengan sumber energi hijau agar menjamin transparansi dan keberlanjutan operasionalnya.
“Untuk menarik investasi green data center, Indonesia perlu meningkatkan kesiapan digital (digital readiness) serta menghijaukan jaringan listrik (greening the grid),” tambah Intan.
Langkah tersebut mencakup pengembangan talenta digital, peningkatan literasi teknologi, serta memperkuat jaringan listrik nasional agar lebih fleksibel dan mampu mengintegrasikan energi terbarukan secara optimal.
- Penulis: syaiful amri



Saat ini belum ada komentar