Imbas Gencatan Senjata AS-Iran, Rupiah Melesat Tinggi
- account_circle -
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah pagi ini menguat usai kabar gencatan senjata AS-Iran.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Rabu (8/4/2026). Penguatan itu didorong pelemahan dolar global usai kabar gencatan senjata Iran.
Berdasarkan data dari Antara, nilai tukar rupiah pagi ini menguat 120 poin atau 0,70 persen menjadi Rp16.985 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,96% ke level 98,9.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan kurs rupiah dipengaruhi meredanya tekanan eksternal seiring gencatan senjata sementara antara AS dengan Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis di kisaran Rp17.050 – Rp17.100 dipengaruhi oleh meredanya tekanan eksternal setelah (kesepakatan) jeda (perang) dua minggu (antara AS dengan Iran). (Ini) mendorong harga minyak dan index dollar turun,” ujarnya.
Mengutip Sputnik, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran, yang akan berlangsung dari kedua pihak, selama dua pekan dan mengatakan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka.
Menurut Trump, kesepakatan tersebut diperantarai oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Asim Munir yang mendorong Trump untuk menangguhkan pengeboman dan serangan ke Iran.
Pemerintah Iran akan memulai pembicaraan dengan Amerika Serikat di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Jumat (10/4).
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa gencatan senjata akan diumumkan pada pekan ini dan negosiasi bukan berarti perang dengan Amerika Serikat berakhir. Apabila Amerika melakukan “kesalahan sekecil apa pun” selama pembicaraan nanti, maka Iran akan merespons dengan kekuatan penuh.
Melihat sentimen domestik, tekanan meningkat karena pelaku pasar memantau tekanan fiskal pemerintah dan defisit anggaran, serta rilis data cadangan devisa yang akan diumumkan Bank Indonesia siang ini.
“Tekanan terbesar pada pengeluaran BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi dan tax ratio dengan tren penurunan, dimana jika mengacu pada defisit anggaran triwulan 1 yang sudah mendekati 1 persen, dikhawatirkan defisit anggaran tembus 3 persen tahun ini,” ungkap Rully.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua



Saat ini belum ada komentar