IHSG Menguat 0,45 Persen ke 8.318, Pasar Cermati Pidato Trump dan Risiko Geopolitik Global
- account_circle syaiful amri
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Suasana Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, menunjukkan aktivitas perdagangan saham yang menurun. Pada pekan 2–6 Februari 2026, IHSG merosot 4,73% terdorong sentimen MSCI dan penurunan peringkat saham Indonesia
JAMBISNIS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (25/2/2026) pagi di tengah sikap pelaku pasar yang mencermati perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG naik 37,32 poin atau 0,45 persen ke level 8.318,15. Sementara indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut menguat 3,41 poin atau 0,41 persen ke posisi 841,04.
Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menyebutkan arah pergerakan pasar masih sangat dipengaruhi dinamika eksternal, terutama pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kebijakan tarif impor AS, serta kondisi ekonomi China dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Reaksi pelaku pasar akan sangat bergantung pada isi pidato Presiden AS, keputusan tarif AS, serta dinamika ekonomi China dan geopolitik kawasan,” tulis tim riset dalam kajiannya.
Dari sisi perdagangan internasional, pemerintah AS resmi menerapkan tambahan tarif 10 persen terhadap barang impor melalui Section 122, dengan peluang kenaikan hingga 15 persen masih terbuka.
Ketidakpastian arah kebijakan dagang tersebut dinilai meningkatkan premi risiko global dan berpotensi mendorong sikap risk-off di pasar keuangan.
Kondisi ini dapat berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tekanan pada saham berbasis ekspor dan komoditas, serta potensi kenaikan imbal hasil obligasi.
Dari kawasan Asia, People’s Bank of China (PBoC) mempertahankan Loan Prime Rate tenor satu tahun di level 3 persen dan tenor lima tahun di 3,5 persen.
Langkah tersebut dilakukan di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan tekanan deflasi di China. Kebijakan itu juga mencerminkan upaya menjaga stabilitas yuan yang belakangan menguat.
Bagi Indonesia, perkembangan ekonomi China menjadi faktor penting mengingat hubungan dagang yang erat, terutama pada sektor komoditas.
Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa ditutup variatif. Sementara itu, bursa saham AS di Wall Street kompak menguat, dengan indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq mencatatkan kenaikan.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar