Film Mantagi: Menyusuri Batanghari, Menyalakan Kembali Kesadaran Manusia di Tanah Jambi
- account_circle Sandi
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Film Mantagi hadir bukan sekadar sebagai tontonan layar lebar, melainkan sebagai perjalanan batin yang mengalir mengikuti denyut Sungai Batanghari. Dikemas dalam format antologi dengan lima cerita yang berdiri sendiri, film ini merajut satu benang merah tentang relasi manusia dan air, serta kesadaran yang perlahan memudar dalam diri manusia, yang disebut sebagai “mantagi”.
Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah wilayah di Provinsi Jambi, yakni Kabupaten Kerinci, Merangin, Muaro Jambi, dan Tanjung Jabung Timur. Keempat daerah tersebut tak hanya menjadi latar visual, tetapi juga representasi bentang Melayu Jambi, baik dari sisi kebudayaan maupun lanskap ekologisnya yang kaya dan sarat makna.
Sutradara sekaligus produser film, Taufik, menjelaskan bahwa Mantagi mengikuti alur Sungai Batanghari sebagai simbol kehidupan, dengan tema besar hubungan manusia dan air.
“Yaitu hubungan antara manusia dan air itu sendiri, cerita dalam film ini akan diperankan oleh tokoh-tokoh utamanya masing-masing,” ujarnya saat ditemui di Taman Budaya Jambi, Selasa (17/2/2026).
Bagi Taufik, “Mantagi” bukan sekadar judul, melainkan gagasan filosofis yang menjadi ruh film ini.
“Seperti kesadaran, nalar, Budi, atau Budi pekerti, dan itulah yang disebut mantagi yang ada dalam diri kita, dan sekarang kebanyakan sudah hilang dari tubuh kita, manusia sekarang banyak melupakan, kesadaran kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini,” ujarnya.
Ia menilai, hilangnya “mantagi” membuat manusia kian menjauh dari alam dan kehilangan kepekaan terhadap sumber kehidupan, terutama air.
Dalam konteks krisis lingkungan yang kian nyata, pesan ini terasa relevan. Air yang semestinya menjadi sumber kehidupan justru kerap diperlakukan tanpa kesadaran dan tanggung jawab. Karena itu, Mantagi dihadirkan sebagai refleksi sekaligus pengingat tentang pentingnya merawat relasi manusia dengan alam.
Dalam salah satu segmen cerita, karakter Mr X yang diperankan Husni menjadi representasi perjalanan batin manusia menuju penyadaran.
Sosok ini digambarkan menempuh proses panjang untuk memahami makna kehidupan melalui pengalaman dan pengendalian diri.
“Mr x itu sendiri orang yang mempuasakan hasratnya ketika dia dipenuhi dengan perjalanan pengalaman untuk sampai ketingkat penyadaran, sehingga apapun yang dilaluinya adalah keindahan,” ucapnya.
Proses produksi Mantagi melibatkan pelaku seni dan masyarakat di berbagai lokasi syuting. Partisipasi warga menjadi elemen penting dalam membangun keautentikan cerita, sekaligus memperkuat keterhubungan film ini dengan realitas sosial masyarakat yang hidup di sepanjang Sungai Batanghari.
Jamal, yang turut terlibat dalam produksi, bahkan merasakan langsung perubahan kondisi air yang menjadi simbol utama film ini.
“Sampai saya minum air itu untuk menyatuh jadi bagian situ, kita bisa lihat disitu air sudah keruh, kita jadi punya sudut pandang berbeda dengan air, air itu sudah tidak asyik lagi dalam bayangan kita, sudah keruh,” ujarnya.
Selama hampir satu bulan proses syuting, Mantagi dirancang bukan hanya sebagai karya sinema, tetapi juga ruang kontemplasi. Melalui lima kisahnya, film ini mengajak penonton menyusuri hulu hingga hilir bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara batin, untuk menghidupkan kembali “mantagi”, kesadaran kolektif manusia agar kembali menghargai air, alam, dan kehidupan itu sendiri.
- Penulis: Sandi

Saat ini belum ada komentar