Data BPS: Partisipasi Sekolah Anak Jambi Turun Tajam di Usia 16–18 Tahun
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Banyak pelajar di jambi yang tidak meneruskan jenjang pendidikan hingga kuliah, faktor ekonomi menjadi pemicu palling utama.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Partisipasi pendidikan anak di Provinsi Jambi masih menghadapi tantangan ketika memasuki usia remaja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan semakin bertambah usia anak, semakin rendah tingkat partisipasi mereka dalam pendidikan. Berdasarkan Profil Penduduk Anak Provinsi Jambi 2025, Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak usia 7–12 tahun mencapai 99,45 persen. Namun, angka tersebut turun menjadi 95,59 persen pada kelompok usia 13–15 tahun.
Penurunan lebih besar terjadi pada kelompok usia 16–18 tahun. APS pada kelompok usia tersebut hanya mencapai 74,39 persen. Artinya, sekitar seperempat anak usia 16–18 tahun di Jambi tidak tercatat sedang mengikuti pendidikan berdasarkan indikator APS.
Kesenjangan juga terlihat berdasarkan jenis kelamin. Pada kelompok usia 16–18 tahun, APS anak perempuan mencapai 78,61 persen, lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki yang berada di level 70,24 persen.
Pola serupa terlihat pada Angka Partisipasi Kasar (APK). Pada jenjang SD atau sederajat, APK mencapai 107,38 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 92,72 persen pada jenjang SMP dan kembali turun menjadi 89,28 persen pada jenjang SMA.
Sementara itu, Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan gambaran yang lebih spesifik mengenai kesesuaian usia dengan jenjang pendidikan. APM SD/sederajat mencapai 97,02 persen, kemudian turun menjadi 78,47 persen pada SMP dan hanya 63,05 persen pada SMA/sederajat.
Data tersebut menunjukkan tantangan mempertahankan anak agar terus bersekolah semakin besar ketika mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
BPS juga mencatat adanya pola berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada jenjang SMP dan SMA, APM anak perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada jenjang SMA, misalnya, APM perempuan mencapai 65,74 persen, sedangkan laki-laki hanya 60,40 persen.
BPS menyebut kondisi tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut, termasuk kemungkinan keterlibatan anak laki-laki dalam aktivitas ekonomi atau pekerjaan pada usia dini.
Persoalan pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan sektor sosial, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap ekonomi dalam jangka panjang. Pendidikan menjadi salah satu fondasi pembentukan sumber daya manusia. Semakin banyak anak yang mampu melanjutkan pendidikan, semakin besar peluang mereka memperoleh keterampilan yang dibutuhkan ketika memasuki pasar kerja.
Sebaliknya, rendahnya keberlanjutan pendidikan dapat membatasi keterampilan dan pilihan pekerjaan ketika anak memasuki usia produktif. Meski demikian, terdapat sisi positif dari kemampuan dasar. BPS mencatat kemampuan membaca anak usia 10–17 tahun di Jambi sudah sangat tinggi. Hampir seluruh anak pada kelompok usia tersebut mampu membaca setidaknya huruf Latin.
Data ini menunjukkan bahwa tantangan Jambi berikutnya bukan hanya memastikan anak bisa membaca, tetapi juga menjaga mereka agar tetap bersekolah hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Profil Penduduk Anak Provinsi Jambi 2025, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.
- Penulis: say say
