Jumat, 17 Apr 2026
light_mode
Beranda » Ekonomi » APBN 2026 Tertekan: Windfall Komoditas Tak Cukup Tahan Dampak Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah

APBN 2026 Tertekan: Windfall Komoditas Tak Cukup Tahan Dampak Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah

  • account_circle say say
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Harapan pemerintah terhadap “durian runtuh” dari lonjakan harga komoditas global mulai memudar. Meski harga minyak, batu bara, dan crude palm oil (CPO) sempat melonjak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tambahan penerimaan negara dinilai belum cukup kuat menopang APBN 2026.

Kenaikan harga komoditas sempat memicu optimisme. Minyak Brent bahkan menembus level US$110 per barel pada awal April 2026, sementara harga batu bara bertahan di kisaran US$140 per ton dan CPO berada di level tinggi. Kondisi ini dipicu eskalasi konflik yang mengguncang pasar energi global.

Namun, realitas fiskal menunjukkan cerita berbeda. Lembaga pemeringkat global masih melihat peluang perbaikan indikator utang Indonesia, seiring potensi tambahan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam (SDA). Bahkan, potensi windfall profit diperkirakan bisa mencapai ratusan triliun rupiah.

Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa situasi saat ini tidak bisa disamakan dengan era booming komoditas sebelumnya. Pemerintah kini dihadapkan pada dilema besar antara meningkatkan penerimaan negara, menjaga pasokan dalam negeri, serta memperkuat ketahanan energi.

Akibatnya, tidak semua kenaikan harga komoditas dapat langsung dikonversi menjadi pemasukan negara. Efektivitas penerimaan juga terhambat oleh faktor produksi, kebijakan fiskal, hingga perubahan mekanisme setoran dari BUMN.

Data hingga Maret 2026 menunjukkan tekanan mulai terasa. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) justru mengalami penurunan, terutama dari sektor migas yang anjlok signifikan. Sementara itu, penerimaan dari sektor nonmigas hanya tumbuh terbatas.

Di sisi lain, tekanan belanja negara justru meningkat lebih cepat. Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah mendorong lonjakan subsidi energi serta biaya impor. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit anggaran jika tidak diantisipasi dengan kebijakan fiskal yang hati-hati.

Secara keseluruhan, windfall komoditas pada 2026 diperkirakan tidak lagi menjadi penopang utama APBN. Pemerintah pun didorong untuk lebih fokus menjaga stabilitas fiskal, ketimbang mengandalkan lonjakan harga komoditas yang sifatnya sementara dan penuh ketidakpastian.

  • Penulis: say say

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Awal Tahun 2026, FJPI Jambi Gelar Rapat Kerja Bahas Program dan Evaluasi Kegiatan

    Awal Tahun 2026, FJPI Jambi Gelar Rapat Kerja Bahas Program dan Evaluasi Kegiatan

    • calendar_month Sen, 19 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jambi menggelar rapat kerja awal tahun pada Sabtu (17/1/2026) di kawasan Sipin, Kota Jambi. Rapat kerja ini membahas rencana program kegiatan FJPI Jambi sepanjang 2026 sekaligus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan pada 2025. Rapat kerja tersebut juga diisi dengan sharing session antaranggotа. Dalam sesi ini, para […]

  • Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Serang Iran

    Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Serang Iran

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer Inggris untuk melancarkan serangan defensif terhadap Iran. Keputusan ini diambil di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang semakin intens dalam beberapa hari terakhir. Meski London menegaskan tidak terlibat dalam serangan ofensif […]

  • Purbaya Tepis Julukan Gaya Koboi: Saya Hanya Perpanjangan Tangan Presiden Prabowo

    Purbaya Tepis Julukan Gaya Koboi: Saya Hanya Perpanjangan Tangan Presiden Prabowo

    • calendar_month Sel, 28 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa gaya komunikasinya yang kerap dianggap “koboi” bukan tindakan pribadi, melainkan bentuk pelaksanaan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemulihan kepercayaan ekonomi masyarakat. “Saya tidak bertindak sendiri. Semua langkah saya adalah perpanjangan tangan Bapak Presiden. Jangan anggap saya koboi,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (27/10/2025). […]

  • Pemerintah Serap Rp25 Triliun dari Lelang SUN Pekan Ini

    Pemerintah Serap Rp25 Triliun dari Lelang SUN Pekan Ini

    • calendar_month Rab, 3 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pemerintah menyerap dana senilai Rp25 triliun dari lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) pada 2 Desember 2025. Dikutip dari keterangan Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, total penerimaan masuk yang tercatat pada lelang kali ini mencapai Rp69,64 triliun. Serapan terbesar berasal dari seri FR0106 (pembukaan kembali) yang dimenangkan sebesar […]

  • Apakah Asam Lambung Bisa Sembuh Sendiri? Simak Penjelasanya 

    Apakah Asam Lambung Bisa Sembuh Sendiri? Simak Penjelasanya 

    • calendar_month Sen, 13 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Banyak orang bertanya, apakah asam lambung bisa sembuh sendiri dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih sepenuhnya. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease, yakni gangguan ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan rasa tidak nyaman di dada atau ulu hati. Secara umum, asam lambung memang dapat membaik […]

  • Menkeu Purbaya Bongkar 4 Modus Penghindaran Bea Keluar, Negara Rugi Besar

    Menkeu Purbaya Bongkar 4 Modus Penghindaran Bea Keluar, Negara Rugi Besar

    • calendar_month Sel, 9 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap empat modus utama yang selama ini digunakan eksportir untuk menghindari kewajiban pembayaran bea keluar atas sejumlah komoditas. Praktik tersebut dinilai dapat merugikan negara karena berpotensi mengurangi penerimaan dari sektor kepabeanan. Purbaya menjelaskan, modus pertama adalah kesalahan administratif dalam penyampaian dokumen ekspor. Kesalahan tersebut ditemukan pada jenis […]

expand_less