Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe di Ponorogo Kecilkan Ukuran demi Bertahan
- account_circle say say
- calendar_month 6 jam yang lalu

Di Ponorogo, perajin tempe menghadapi tantangan akibat kenaikan harga kedelai dan bahan kemasan. Salah satu perajin, Hadi Prayitno, menyesuaikan ukuran produk tempe mereka untuk mempertahankan marjin keuntungan meskipun biaya produksi meningkat. Sebelumnya, kapasitas produksi Hadi mencapai tiga kuintal per hari, namun kini produksi turun menjadi 2 hingga 2,5 kuintal per hari. Untuk mengurangi biaya, Hadi mengurangi berat tempe dalam setiap bungkus dari sekitar 380 gram menjadi 350 gram. Meskipun harga kedelai dan plastik naik, Hadi tetap menggunakan kedelai impor karena ketersediaan lokal terbatas.
JAMBISNIS.COM – Kenaikan harga kedelai impor memaksa perajin tempe di Ponorogo, Jawa Timur, mengubah strategi produksi. Alih-alih menaikkan harga jual, pelaku usaha memilih memperkecil ukuran tempe demi menjaga daya beli konsumen.
Perajin tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Hadi Prayitno, mengatakan lonjakan harga bahan baku membuat biaya produksi meningkat signifikan. Harga kedelai impor kini mencapai sekitar Rp12 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp10 ribu.
“Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Jadi ukuran tempe kami kecilkan,” ujar Hadi, Selasa, 5 Mei 2026.
Penyesuaian dilakukan dengan mengurangi berat tempe per bungkus. Jika sebelumnya sekitar 380 gram, kini menjadi sekitar 350 gram, sementara harga jual tetap dipertahankan.
Dampaknya, kapasitas produksi turut menurun. Dari sebelumnya mencapai tiga kuintal per hari, kini hanya berkisar dua hingga 2,5 kuintal.
Hadi menyebut perajin masih bergantung pada kedelai impor karena pasokan lokal terbatas dan kualitasnya belum stabil. Kondisi ini membuat pelaku usaha rentan terhadap gejolak harga global.
Pedagang kedelai di Pasar Legi Ponorogo, Rafli, mengatakan kenaikan harga dipicu faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada distribusi dan harga komoditas global.
Kenaikan juga terjadi pada kedelai lokal, dari sekitar Rp9 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram.
Lonjakan harga bahan baku ini menjadi tekanan serius bagi pelaku usaha kecil. Mereka dituntut menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
- Penulis: say say


