PLN Luncurkan Proyek PLTS 1,22 GW Lewat Skema Giga One, Dorong Transisi Energi
- account_circle say say
- calendar_month 7 jam yang lalu

JAMBISNIS.COM – PLN meluncurkan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berskala besar melalui skema tender terintegrasi bertajuk Giga One. Proyek ini diberi nama PLTS Mentari Nusantara I dengan kapasitas mencapai 1,225 gigawatt (GW), menjadikannya salah satu pengembangan energi surya terbesar di Indonesia.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan bahwa skema Giga One merupakan inovasi dalam pengadaan proyek energi terbarukan. Melalui pendekatan ini, sejumlah proyek digabungkan dalam satu paket untuk meningkatkan efisiensi serta menarik minat investor.
“Pendekatan ini membuat proyek lebih bankable dan memberikan kepastian dari sisi pengadaan hingga konstruksi,” ujar Darmawan dalam keterangan resmi.
PLN menegaskan, proyek ini tidak hanya berfokus pada pembangunan pembangkit listrik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri energi surya nasional.
Direktur Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menyebut proyek tersebut dirancang untuk mendorong pengembangan industri dari hulu hingga hilir. Selain itu, proyek ini juga mendukung target pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto untuk membangun PLTS dengan kapasitas hingga 100 GW.
PLTS Mentari Nusantara I akan dibangun di berbagai wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, serta Maluku dan Papua. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2029.
Meski demikian, PLN belum merinci nilai investasi, skema tarif, maupun struktur kontrak dalam proyek tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia, Eka Satria, menilai proyek ini berpotensi menarik minat investor, khususnya produsen listrik swasta atau independent power producer (IPP).
Menurut dia, skala proyek yang besar serta dukungan dari PLN menjadi daya tarik utama. Namun, investor tetap akan mencermati sejumlah aspek penting, seperti kejelasan perjanjian jual beli listrik (PPA), struktur tarif, serta pembagian risiko.
“Bankability proyek akan menjadi faktor utama. Investor akan melihat kepastian dari sisi pembayaran dan risiko,” kata Eka.
Selain itu, sejumlah aspek teknis juga menjadi perhatian, seperti kesiapan lahan, kapasitas jaringan listrik, potensi pembatasan produksi listrik (curtailment), hingga kewajiban penggunaan sistem penyimpanan energi baterai (BESS).
Sementara itu, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, Andry Satrio Nugroho, menilai proyek ini dapat menjadi langkah penting dalam percepatan transisi energi di Indonesia.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada eksekusi di lapangan.
“Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi pemicu bagi pengembangan energi terbarukan lainnya. Sebaliknya, jika gagal, dapat menjadi preseden yang kurang baik,” ujarnya.
Andry juga menekankan pentingnya dukungan terhadap industri dalam negeri. Tanpa kebijakan yang memadai, produsen panel surya lokal berpotensi menghadapi persaingan ketat dari produk impor yang lebih murah.
Di sisi lain, pengembangan energi surya dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbasis diesel yang selama ini membebani anggaran subsidi energi.
Program penggantian pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan PLTS yang dilengkapi sistem penyimpanan energi disebut sebagai salah satu langkah strategis yang dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperluas pasar industri domestik.
- Penulis: say say


