IHSG Tancap Gas 1,4%, Didorong Sentimen Global dan Lonjakan Harga Minyak
- account_circle say say
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: IHSG Tancap Gas 1,4%
JAMBISNIS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (14/4/2026), seiring sentimen global yang masih mendominasi pergerakan pasar. Pada pembukaan sesi I, IHSG tercatat naik 1,4% atau 105,19 poin ke posisi 7.605,38. Sebanyak 425 saham menguat, 73 melemah, dan 461 lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp662,6 miliar dengan volume 923,7 juta saham dari 80.560 kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat meningkat menjadi Rp13.515 triliun.
Penguatan IHSG terjadi di tengah dinamika global yang dipengaruhi rilis data ekonomi penting serta ketegangan geopolitik yang belum mereda. Sejumlah data yang menjadi perhatian pasar antara lain neraca perdagangan China serta indeks harga produsen (PPI) Amerika Serikat.
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut memicu lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus level US$100 per barel. Kondisi ini dipicu gangguan pasokan akibat ketegangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% distribusi minyak global.
Kenaikan harga minyak tersebut memberikan dampak beragam bagi Indonesia. Dari sisi positif, Indonesia berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga komoditas ekspor seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), nikel, dan emas.
Namun di sisi lain, ketidakpastian global juga memicu sentimen risk-off yang mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven. Hal ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan domestik.
Selain itu, gangguan rantai pasok global akibat konflik berpotensi memicu tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, atau yang dikenal dengan istilah stagflasi.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid. Inflasi yang sempat meningkat pada awal tahun kini mulai terkendali dan berada dalam target Bank Indonesia di kisaran 2,5% ± 1%.
Pemerintah juga mempertahankan harga BBM bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 diperkirakan tetap berada di kisaran 5,2%.
Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia terus melakukan pemantauan pasar selama 24 jam dan menyiapkan intervensi likuiditas di berbagai instrumen, termasuk pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), serta Domestic NDF (DNDF).
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar