Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Punya Peluang Sekolah Lebih Tinggi
- account_circle say say
- calendar_month Sen, 13 Apr 2026
- comment 0 komentar

Pemberdayaan Perempuan Tingkatkan Akses Pendidikan Anak Perempuan
JAMBISNIS.COM – Kesempatan perempuan untuk bekerja tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi anak perempuan untuk mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
Hal tersebut tergambar dari kisah Ai Rahmawati (39), warga Desa Pasirsalam, Kecamatan Mangunreja, yang berhasil menyekolahkan anak perempuannya hingga ke jenjang lebih tinggi. Di lingkungannya, kondisi tersebut masih tergolong langka.
Keterbatasan akses pendidikan serta faktor ekonomi membuat banyak anak perempuan di daerah tersebut harus putus sekolah dan menikah di usia muda. Jarak sekolah yang jauh serta biaya pendidikan menjadi kendala utama.
Ai menyadari bahwa tambahan penghasilan menjadi kunci agar anaknya tetap bisa bersekolah. Karena itu, ia memilih bekerja di rumah pengemasan (packing house) milik Java Fresh, perusahaan eksportir buah tropis.
Meski hanya lulusan sekolah menengah pertama, Ai telah bekerja selama delapan tahun. Ia bukan satu-satunya. Sejumlah perempuan lain yang bekerja di tempat yang sama juga mampu membiayai pendidikan anak perempuan mereka hingga ke perguruan tinggi.
Saat ini, Java Fresh mempekerjakan sekitar 210 pekerja perempuan yang tersebar di enam fasilitas packing house. Sekitar 70 persen di antaranya berusia di atas 40 tahun. Bagi mereka, pekerjaan ini menjadi peluang untuk tetap produktif sekaligus mandiri secara ekonomi.
Salah satu pekerja, Eti Suharti (56), mengaku bersyukur masih memiliki pekerjaan di usia yang tidak lagi muda. Ia bertugas membersihkan buah manggis dari kotoran dan serangga sebelum dikirim ke pasar ekspor.
Setelah suaminya meninggal dunia, Eti menjadi tulang punggung keluarga sekaligus merawat orang tuanya yang lanjut usia. Penghasilan dari pekerjaannya kini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Suasananya juga nyaman karena banyak teman seusia,” ujarnya.
Eti telah bekerja selama tujuh tahun dengan penghasilan sekitar Rp700.000 setiap dua minggu, bahkan bisa mencapai Rp1,2 juta saat volume pekerjaan meningkat. Sebelumnya, ia hanya berjualan kecil dengan pendapatan tidak menentu.
Bangun Kapasitas dan Kemandirian Perempuan
Tidak hanya membuka lapangan kerja, Java Fresh juga menjalankan berbagai program pemberdayaan perempuan. Program tersebut mencakup layanan kesehatan, edukasi keuangan, hingga pelatihan teknis seperti proses penyortiran dan penanganan buah sesuai standar ekspor.
Penyediaan makan siang bergizi juga menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas pekerja.
Co-Founder dan CEO Java Fresh, Margareta Astaman, mengatakan bahwa pendekatan pemberdayaan yang menyeluruh dapat memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya bagi pekerja tetapi juga keluarga dan komunitas mereka.
“Ketika perempuan memiliki penghasilan, mereka cenderung menginvestasikannya untuk pendidikan anak,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan juga memperkuat riset dan pengembangan (R&D) dengan dukungan hibah dari DBS Foundation. Melalui inovasi tersebut, masa simpan buah segar dapat diperpanjang dari sekitar satu minggu menjadi hingga 35 hari.
Teknologi ini membantu mengurangi limbah pascapanen sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi. Saat ini, Java Fresh telah mengekspor berbagai buah tropis seperti manggis, salak, dan kelapa ke lebih dari 25 negara.
Ke depan, perusahaan berencana memperluas sumber pasokan manggis ke luar Pulau Jawa dan Sumatera, termasuk ke Kalimantan dan Sulawesi. Namun, kualitas lingkungan tanam tetap menjadi perhatian utama, terutama terkait potensi kontaminasi pestisida.
Upaya pemberdayaan perempuan melalui akses pekerjaan dan peningkatan kapasitas ini dinilai mampu memutus rantai keterbatasan, sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar