Harga Minyak Dunia Anjlok di Bawah USD 100 Per Barel
- account_circle say say
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Minyak Dunia
JAMBISNIS.COM – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam hingga di bawah level USD 100 per barel, menyusul meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui penangguhan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari upaya membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei turun sekitar 15 persen menjadi USD 95,63 per barel pada Selasa (7/4/2026).
Trump menyatakan, gencatan senjata bersifat sementara dan bergantung pada komitmen Iran untuk membuka akses penuh, aman, dan segera di Selat Hormuz.
Ia menyebut, pemerintah AS telah menerima proposal dari Iran yang berisi sejumlah poin penting sebagai dasar negosiasi lanjutan.
“Hampir semua poin perselisihan di masa lalu telah disepakati, dan periode dua minggu ini akan dimanfaatkan untuk merampungkan perjanjian,” ujar Trump.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan kesiapan negaranya untuk memberikan jalur aman bagi kapal-kapal yang melintas selama masa gencatan senjata.
Sebelumnya, ketegangan di kawasan Timur Tengah sempat mengganggu distribusi energi global. Serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz menyebabkan penurunan signifikan arus ekspor minyak.
Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut sebelum konflik meningkat. Gangguan ini sempat mendorong lonjakan harga berbagai produk energi, termasuk bahan bakar jet, solar, dan bensin. Namun, dengan adanya kesepakatan sementara, pasar mulai merespons positif potensi normalisasi pasokan energi global.
Meski harga minyak turun, pelaku pasar masih mencermati perkembangan lanjutan dari kesepakatan tersebut. Pasalnya, gencatan senjata bersifat sementara dan sangat bergantung pada komitmen kedua belah pihak dalam menjaga stabilitas kawasan. Jika kesepakatan gagal dipertahankan, potensi lonjakan harga energi global masih terbuka.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar