Tak Harus Punya Kebun! Ini 5 Peluang Bisnis Sawit, Karet, dan Pinang di Jambi 2026
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Memulai bisnis pinang tak meski harus punya kebun pinang, seperti yang di lakukan Ahmad Arfandi yang membeli pinang langsung dari petani, lalu di olah hingga bernilai mahal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kedekatan dengan sumber bahan baku menjadi salah satu strategi penting untuk membangun bisnis pengolahan dan perdagangan komoditas perkebunan di Provinsi Jambi. Peluang ini terbuka bagi usaha pengumpulan tandan buah segar (TBS), pengepul karet, perdagangan pinang, hingga pengolahan hasil pertanian.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat, pada 2025 luas perkebunan rakyat mencapai sekitar 660.600 hektare untuk kelapa sawit dan 590.000 hektare untuk karet. Produksinya masing-masing tercatat sekitar 1,46 juta ton dan 332.400 ton. Data tersebut menunjukkan besarnya potensi bahan baku yang dapat mendukung usaha pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan komoditas.
Untuk kelapa sawit, pelaku usaha dapat menjajaki sentra perkebunan di Kabupaten Tebo, Bungo, Merangin, Sarolangun, Batang Hari, dan Muaro Jambi. Sementara itu, perdagangan pinang berpotensi dikembangkan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Kedua daerah pesisir tersebut dikenal sebagai wilayah penghasil pinang, termasuk varietas Pinang Betara dari Tanjung Jabung Barat.
Dari sisi harga, penetapan pemerintah daerah untuk periode 9–15 Oktober 2026 mencatat TBS sawit umur 10–20 tahun sebesar Rp3.621,16 per kilogram. Harga tersebut turun Rp137,15 dibandingkan periode sebelumnya. Angka ini merupakan harga acuan TBS, bukan keuntungan bersih petani.
Peluang pasar juga terlihat dari perdagangan luar negeri. BPS mencatat ekspor asal Jambi pada Januari 2026 mencapai US$152,92 juta. Komoditas minyak nabati serta karet olahan menjadi bagian dari perdagangan ekspor provinsi ini. Namun, angka tersebut mencakup berbagai komoditas dan tidak dapat dianggap sebagai nilai ekspor sawit atau karet saja.
Bagi calon pengusaha, lokasi usaha sebaiknya dekat kebun, jalan angkutan, dan pabrik pengolahan. Penghematan biaya transportasi harus dibandingkan dengan harga beli bahan baku, biaya tenaga kerja, penyusutan, serta harga jual. Dengan perhitungan tersebut, bisnis berbasis komoditas dapat lebih terukur dan tidak hanya bergantung pada kenaikan harga pasar.
- Penulis: say say
