Buyer Eropa Lirik Kayu Manis Kerinci, Pemkab Bidik 1 Juta Bibit dalam 5 Tahun
- account_circle -
- calendar_month 22 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Petani menjemur kayu manis dihamparan rumahnya. (F:Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Peluang kayu manis Kerinci menembus pasar global semakin terbuka. Pemerintah Kabupaten Kerinci mulai menjajaki kerja sama dengan pembeli dari Eropa untuk memperkuat daya saing komoditas unggulan daerah tersebut sekaligus meningkatkan nilai jual di tingkat petani.
Penjajakan itu ditandai dengan kunjungan sejumlah buyer kulit kayu manis asal Belanda, Jerman, dan Swedia. Para calon pembeli tersebut diterima langsung Bupati Kerinci Monadi di PTPN IV Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jumat (9/10/2026).
Bupati Monadi mengatakan, kerja sama dengan pembeli internasional menjadi salah satu langkah untuk memperluas akses pasar sekaligus mendorong peningkatan kualitas kayu manis Kerinci.
“Kami ingin kulit kayu manis Kerinci semakin berkualitas dan memiliki daya saing kuat di pasar internasional,” ujarnya dikutip Antara, Senin (12/10/2026).
Namun, memperluas pasar ekspor tidak cukup hanya dengan mempertemukan petani dan pembeli. Ketersediaan bahan baku, konsistensi mutu, serta keberlanjutan produksi juga menjadi faktor penting agar komoditas Kerinci mampu bersaing di pasar internasional.
Karena itu, Pemkab Kerinci menargetkan pengembangan satu juta bibit kayu manis berkualitas dalam lima tahun ke depan. Program tersebut direncanakan melalui kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dan pihak swasta, termasuk investor asing yang memiliki kepentingan terhadap komoditas tersebut.
Monadi berharap, penguatan kualitas bibit dan produksi dapat berjalan beriringan dengan pembukaan akses ekspor yang lebih luas. Dengan begitu, petani tidak hanya bergantung pada rantai perdagangan yang panjang, tetapi juga memiliki peluang memperoleh nilai tambah lebih besar.
Ribuan Petani Bergantung pada Kayu Manis
Potensi ekonomi kayu manis Kerinci ditopang oleh ribuan petani yang menggantungkan penghasilan dari perkebunan tersebut.
Berdasarkan data statistik BPS Provinsi Jambi yang disampaikan dalam informasi pemerintah daerah, sekitar 2.651 petani di Kerinci menggeluti perkebunan kayu manis, dengan rata-rata produksi mencapai 2.926 ton per tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penguatan pasar kayu manis bukan sekadar agenda perdagangan, melainkan juga berkaitan langsung dengan pendapatan masyarakat perkebunan.
Persoalan harga menjadi perhatian pemerintah daerah. Ketika harga turun, petani berisiko berada pada posisi tawar yang lemah, terutama jika akses terhadap pembeli besar dan informasi pasar masih terbatas.
“Kita harus mencari solusi agar petani tidak terus berada pada posisi lemah saat harga turun. Langkahnya adalah meningkatkan kualitas produk dan memperpendek rantai pasok melalui kerja sama dengan pemangku kepentingan dari berbagai negara,” kata Monadi.
Meski demikian, dampak kerja sama terhadap harga di tingkat petani akan bergantung pada tindak lanjut kemitraan, standar mutu yang disepakati, serta mekanisme pembelian yang diterapkan.
Jika penjajakan dengan buyer Eropa berlanjut menjadi kontrak dagang yang nyata, peluang ekspor kayu manis Kerinci dapat semakin terbuka. Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat perdagangan tersebut benar-benar dirasakan petani, bukan hanya meningkatkan nilai transaksi di tingkat perantara.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
