Pinjaman Masyarakat Jambi Capai Rp55 Triliun, Ini Peta Pembiayaan di Setiap Daerah
- account_circle say say
- calendar_month 23 menit yang lalu
- print Cetak

Pinjaman Usama UMKM di Bank Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Aktivitas pembiayaan masyarakat di Provinsi Jambi menunjukkan karakter yang berbeda di setiap kabupaten dan kota. Berdasarkan data Bank Indonesia dalam Indikator Ekonomi Provinsi Jambi 2025, posisi pinjaman rupiah dan valuta asing bank umum serta BPR pada Desember 2025 mencapai sekitar Rp55,25 triliun jika seluruh kabupaten dan kota dalam tabel dijumlahkan.
Kota Jambi menjadi wilayah dengan posisi pinjaman terbesar, yakni Rp16,63 triliun pada Desember 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan Januari 2025 yang berada di level Rp15,83 triliun.
Besarnya pembiayaan di Kota Jambi tidak terlepas dari karakter kota sebagai pusat perdagangan dan jasa Provinsi Jambi. Aktivitas perbankan berkaitan dengan kebutuhan modal kerja pelaku usaha, perdagangan, jasa profesional, properti, transportasi, kuliner, pendidikan, kesehatan hingga konsumsi rumah tangga.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Kerinci dengan pinjaman sekitar Rp10,67 triliun. Nilai ini cukup besar dibandingkan sebagian besar wilayah lain. Struktur ekonomi Kerinci memiliki keterkaitan kuat dengan pertanian, perkebunan, hortikultura, perdagangan dan pariwisata. Aktivitas pembiayaan di wilayah ini dapat menjadi bagian dari ekosistem usaha mulai dari produksi pertanian hingga perdagangan komoditas.
Selanjutnya, Batang Hari mencatat posisi pinjaman sekitar Rp5,81 triliun. Perekonomian daerah ini memiliki basis pada perkebunan, pertanian, perdagangan, pertambangan dan jasa. Karakter tersebut membuat kebutuhan pembiayaan dapat muncul dari kegiatan produksi, pengadaan alat usaha, perdagangan komoditas maupun pengembangan usaha.
Muaro Jambi berada pada posisi berikutnya dengan pinjaman Rp4,62 triliun. Kedekatannya dengan Kota Jambi membuat daerah ini memiliki aktivitas ekonomi yang beragam, mulai dari pertanian dan perkebunan hingga perdagangan, industri dan logistik. Pertumbuhan kawasan permukiman serta aktivitas ekonomi di sekitar pusat kota juga menciptakan kebutuhan pembiayaan baru.
Di Bungo, posisi pinjaman mencapai sekitar Rp4,05 triliun. Kabupaten ini memiliki aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan perkebunan, pertanian, perdagangan dan jasa. Perputaran komoditas menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem ekonomi daerah.
Sementara itu, Merangin mencatat pinjaman sekitar Rp3,76 triliun. Aktivitas ekonomi daerah ini banyak berkaitan dengan pertanian, perkebunan, perdagangan dan jasa. Pembiayaan menjadi penting bagi keberlanjutan usaha, terutama ketika pelaku usaha membutuhkan modal untuk produksi maupun distribusi.
Tanjung Jabung Barat memiliki posisi pinjaman sekitar Rp3,09 triliun. Karakter ekonominya berkaitan dengan perkebunan, pertanian, perdagangan, industri serta sektor energi. Struktur tersebut menunjukkan adanya kebutuhan pembiayaan dari kegiatan ekonomi berbasis sumber daya hingga perdagangan.
Berikutnya, Tebo mencatat sekitar Rp2,65 triliun. Perkebunan, pertanian, perdagangan dan jasa menjadi bagian dari aktivitas ekonomi daerah. Sementara Sarolangun berada di angka Rp2,23 triliun, dengan aktivitas ekonomi yang antara lain berkaitan dengan pertanian, perkebunan, pertambangan dan perdagangan.
Di wilayah pesisir timur, Tanjung Jabung Timur mencatat posisi pinjaman sekitar Rp1,61 triliun. Daerah ini memiliki karakter ekonomi yang berkaitan dengan pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan dan sektor energi.
Adapun Kota Sungai Penuh mencatat posisi pinjaman sekitar Rp177,89 miliar pada Desember 2025 berdasarkan tabel yang tersedia. Aktivitas ekonominya berkaitan dengan perdagangan, jasa, pariwisata dan pertanian.
Jika dilihat secara keseluruhan, peta pembiayaan Jambi memperlihatkan adanya dua karakter utama. Pertama, pembiayaan dalam jumlah besar terkonsentrasi di pusat aktivitas ekonomi seperti Kota Jambi. Kedua, pembiayaan di kabupaten memiliki keterkaitan dengan karakter ekonomi lokal, terutama komoditas pertanian, perkebunan, perdagangan dan sumber daya alam.
Pola tersebut sejalan dengan struktur ekonomi Jambi. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit korporasi Jambi pada triwulan IV 2025 antara lain didukung sektor pertanian, pertambangan dan perdagangan. Kredit sektor pertanian tumbuh 21,51 persen secara tahunan, pertambangan 51,42 persen dan perdagangan 3,79 persen.
Di sisi lain, BPS mencatat ekonomi Provinsi Jambi tumbuh 4,93 persen sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi daerah terus bergerak, meskipun sumber pertumbuhan dan kebutuhan pembiayaannya berbeda antarwilayah.
- Penulis: say say
