Rupiah Bangkit, Dolar AS Mulai Tertekan
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan rupiah. (F:Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah akhirnya bangkit. Mata uang Indonesia kembali bergerak menguat pada perdagangan Jumat (18/9/2026), setelah sebelumnya berada di bawah tekanan.
Mengutip Antara, rupiah dibuka di level Rp17.743 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 10 poin atau 0,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.753 per dolar AS.
Meski penguatannya masih tipis, pergerakan tersebut menjadi sinyal positif bagi rupiah. Mata uang Indonesia mulai meninggalkan tekanan yang membayangi perdagangan sebelumnya.
Di saat yang sama, dolar AS justru bergerak melemah. Indeks dolar AS turun 0,03 persen ke posisi 100,223.
Pergerakan rupiah pada perdagangan terakhir pekan ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh perkembangan dari luar dan dalam negeri.
Dari pasar global, dolar AS mulai kehilangan tenaga setelah melonjak tajam menyusul keputusan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Koreksi dolar terjadi seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mulai meredanya harga minyak. Laporan mengenai tambahan pengiriman minyak mentah Arab Saudi melalui Oman turut mengurangi kekhawatiran terhadap pasokan energi.
Meski mulai terkoreksi, dolar AS masih berada di atas level psikologisnya di 100.
Pelaku pasar bahkan memperkirakan jalur kenaikan bunga yang lebih agresif dibandingkan proyeksi The Fed. Pejabat The Fed memperkirakan satu kali kenaikan tambahan pada 2026 dan tidak ada perubahan pada 2027.
Sementara itu, investor memperhitungkan lebih dari satu kenaikan tambahan hingga akhir tahun ini dan sekitar tiga kali kenaikan lagi sampai akhir 2027. Perbedaan perkiraan tersebut membuat pergerakan dolar masih berpotensi mengalami volatilitas.
Adapun dari domestik, perhatian pasar akan tertuju kepada konferensi pers Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) KiTa yang akan digelar Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
Konferensi pers tersebut akan membahas realisasi pendapatan dan belanja negara hingga Agustus 2026. Ini sekaligus menjadi konferensi pers APBN KiTa pertama Suahasil sejak menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan yang disampaikan Suahasil, terutama terkait perkembangan penerimaan negara, belanja pemerintah, dan pembiayaan utang.
Realisasi hingga Agustus juga akan menjadi gambaran awal untuk memperkirakan kondisi APBN sampai akhir 2026, termasuk kemampuan pemerintah menjaga defisit dan membiayai program prioritas.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: darmanto zebua
