Kamis, 17 Sep 2026
light_mode
Beranda » Regional » Batanghari Mengamuk! Banjir 1955 Rendam Jambi, Air di Tembesi Capai 4 Meter

Batanghari Mengamuk! Banjir 1955 Rendam Jambi, Air di Tembesi Capai 4 Meter

  • account_circle -
  • calendar_month 13 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Sungai Batanghari pernah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Jambi. Namun, sungai terpanjang di Sumatera itu juga menyimpan catatan panjang bencana. Salah satu yang paling dahsyat terjadi pada Januari 1955.

Banjir saat itu bukan hanya merendam kawasan perkotaan. Genangan meluas mengikuti bentang Sungai Batanghari, menghantam wilayah Kabupaten Batanghari hingga sebagian Merangin. Di Muara Tembesi, ketinggian air bahkan mencapai sekitar empat meter.

Bencana besar itu menjadi gambaran betapa seriusnya perubahan lingkungan di kawasan Batanghari setelah berlangsung selama puluhan tahun.

Hutan Dibuka, DAS Berubah

Jejak persoalan tersebut tidak muncul tiba-tiba. Sejak awal abad ke-20, perubahan bentang alam di sekitar Sungai Batanghari berlangsung semakin masif. Perkembangan ekonomi dan kebijakan eksploitasi pada masa kolonial Belanda mendorong pembukaan kawasan hutan dan perubahan fungsi lahan.

Pembangunan jalur penghubung antara kawasan hulu dan hilir berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi. Hutan dibuka. Sebagian kawasan daerah aliran sungai (DAS) berubah menjadi perkebunan dan persawahan.

Memasuki dekade 1920-an, perkebunan karet berkembang pesat. Komoditas tersebut menjadi salah satu pendorong pembukaan hutan dalam skala besar.

Perubahan tutupan lahan itu bukan tanpa konsekuensi. Penelitian sejarah mengenai banjir Jambi mencatat pembukaan perkebunan karet dan penebangan hutan di kawasan hulu ikut memicu longsoran. Material longsoran kemudian berkontribusi terhadap pendangkalan Sungai Batanghari.
Masalah semakin kompleks karena tekanan terhadap hutan tidak berhenti setelah Indonesia merdeka pada 1945.

Industri furnitur di wilayah hilir membutuhkan pasokan kayu dari kawasan hulu. Aktivitas pertambangan juga berkembang. Eksploitasi sumber daya pun terus berlangsung.
Di atas kertas, aktivitas tersebut menjadi bagian dari denyut ekonomi. Namun, perubahan besar pada bentang alam juga membawa konsekuensi ekologis yang baru terasa dalam jangka panjang.

Banjir Besar 1955

Akumulasi perubahan tersebut kemudian bertemu dengan hujan ekstrem.

Pada akhir Januari 1955, hujan mengguyur Jambi selama sekitar sepuluh hari. Debit air Sungai Batanghari meningkat dan sungai tak mampu menampung seluruh aliran.
Banjir pun meluas.

Penelitian sejarah mencatat sekitar 80 persen wilayah Jambi terendam. Dampaknya menjangkau kawasan-kawasan yang berada di sepanjang DAS Batanghari.

Kabupaten Batanghari dilaporkan terendam hampir seluruhnya. Sementara sekitar separuh wilayah Merangin ikut terendam. Kota Jambi juga mengalami dampak berat, termasuk terganggunya hubungan transportasi dengan daerah lain.

Di Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, situasinya sangat parah. Ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar empat meter. Kawasan tersebut bahkan digambarkan berubah seperti danau.
Di kawasan Kampung Penyeberangan Tanjung, rumah dan toko yang berada dekat aliran air dilaporkan hanyut. Banyak warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam.

Jalur transportasi ikut lumpuh. Jalan dari daerah luar menuju Kota Jambi terputus. Begitu pula jalur yang menghubungkan Palembang–Jambi dan Bukittinggi–Jambi. Genangan membuat hubungan darat dan komunikasi dengan daerah lain terganggu.

42 Ribu Hektare Sawah Rusak

Skala kerusakan banjir 1955 tidak kecil. Sekitar 42 ribu hektare sawah siap panen dilaporkan hancur.

Jumlah masyarakat yang terdampak diperkirakan mencapai 350 ribu orang. Lima orang dilaporkan meninggal dunia.

Besarnya dampak tersebut membuat banjir 1955 dikenang sebagai salah satu banjir terbesar dalam sejarah Jambi.

Komando Teritorial II/Sriwijaya, Kolonel Bambang Utoyo, bahkan menyebut bencana tersebut sebagai bencana nasional dan sebagai banjir terburuk dalam kurun seratus tahun terakhir, sebagaimana dikutip dalam penelitian yang menggunakan arsip surat kabar periode tersebut.

Bagi masyarakat yang hidup di sepanjang Batanghari, bencana itu bukan sekadar persoalan air yang naik.

Rumah terendam. Sawah rusak. Jalan putus. Aktivitas ekonomi berhenti. Warga terpaksa menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi atau menggunakan perahu untuk mengungsi.

Bukan Sekadar Soal Hujan

Banjir 1955 memang dipicu hujan deras yang berlangsung berhari-hari. Namun, catatan sejarah menunjukkan persoalannya lebih panjang daripada sekadar cuaca ekstrem.

Perubahan ekologis di sepanjang Sungai Batanghari telah berlangsung sejak masa kolonial. Pembukaan hutan, perluasan perkebunan, longsoran, pendangkalan sungai, hingga eksploitasi kayu dan sumber daya alam ikut mengubah kemampuan lingkungan dalam mengendalikan air.

Artinya, ketika hujan ekstrem datang, tekanan terhadap sistem sungai sudah jauh lebih besar.
Namun, banjir tidak tepat dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Curah hujan, kondisi sungai, sedimentasi, perubahan penggunaan lahan, tata ruang, kapasitas drainase, serta kondisi kawasan hulu dan hilir sama-sama dapat memengaruhi besarnya genangan.

Di sinilah pelajaran dari banjir 1955 menjadi penting.

Batanghari Butuh Penanganan dari Hulu

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak cukup dilakukan ketika air sudah masuk ke rumah warga.

Penanganan darurat tetap menjadi keharusan untuk menyelamatkan masyarakat ketika banjir terjadi. Tetapi pada saat yang sama, kawasan hulu dan DAS juga membutuhkan perlindungan jangka panjang.

Pemulihan tutupan vegetasi, pengendalian alih fungsi lahan, perlindungan sempadan sungai, pengawasan aktivitas perkebunan dan pertambangan, serta pengelolaan sedimentasi menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi ekologis Sungai Batanghari. Sebab, sungai tidak berdiri sendiri.

Apa yang terjadi di kawasan hulu pada akhirnya dapat dirasakan masyarakat di hilir.
Banjir 1955 telah memberikan gambaran paling jelas. Ketika hutan berubah, DAS tertekan dan sungai mengalami pendangkalan, kemudian hujan besar datang, dampaknya bisa menjalar jauh mengikuti aliran Batanghari.

Sejarah banjir 1955 akhirnya bukan sekadar cerita tentang air yang pernah mencapai empat meter. Itu adalah peringatan bahwa kerusakan lingkungan yang berlangsung puluhan tahun bisa berubah menjadi bencana hanya dalam hitungan hari. Dan bagi Sungai Batanghari, pelajaran itu masih relevan hingga sekarang.(*)

 

Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.

 

  • Penulis: -
  • Editor: Darmanto Zebua

Rekomendasi Untuk Anda

  • Purbaya Minta Kementerian dan Pemda Segera Habiskan Anggaran 2025

    Purbaya Minta Kementerian dan Pemda Segera Habiskan Anggaran 2025

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta maaf kepada sejumlah kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah (Pemda) yang merasa tersinggung atas pernyataannya terkait lambatnya realisasi belanja daerah. Namun, ia menegaskan bahwa pesan utamanya tetap sama: anggaran harus dihabiskan agar ekonomi nasional bergerak optimal. “Kalau ada yang tersinggung, saya mohon maaf. Tapi yang benar lah, habiskan […]

  • PLN Resmi Operasikan Smart Microgrid Hijau di Nusa Penida

    PLN Resmi Operasikan Smart Microgrid Hijau di Nusa Penida

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – PT PLN (Persero) resmi mengoperasikan Smart Microgrid Nusa Penida, sebuah sistem kelistrikan cerdas berbasis digital dan energi hijau yang mampu mengatur pembangkit dan sistem penyimpanan baterai secara otomatis. Infrastruktur ini menjadi langkah strategis PLN untuk menjaga keandalan listrik sekaligus mempercepat transisi energi bersih di kawasan Nusa Penida, Bali. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo […]

  • Perak Antam Kembali Menguat, Sentuh Level Segini

    Perak Antam Kembali Menguat, Sentuh Level Segini

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga perak produksi Antam kembali melesat. Kenaikan harga perak Antam ini berlawanan dengan harga emas Antam tetapi sejalan dengan harga perak dunia. Berdasarkan data dari laman logam mulia pada Kamis (16/4/2026), harga perak Antam naik Rp 300. Kini, harga perak Antam dibanderol Rp50.600 dari perdagangan sebelumnya Rp50.300. Antam menawarkan perak batangan 250 gram, […]

  • Pemerintah Tanggung PPh 21 Pekerja Industri Padat Karya Sepanjang 2026

    Pemerintah Tanggung PPh 21 Pekerja Industri Padat Karya Sepanjang 2026

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pemerintah resmi menanggung Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 bagi pekerja di sektor industri padat karya sepanjang tahun 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang stabilitas ekonomi nasional. Ketentuan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 105 Tahun 2025 yang ditandatangani Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai bagian dari […]

  • Masih Lemah, Rupiah Terkoreksi ke Rp16.749 per Dolar AS

    Masih Lemah, Rupiah Terkoreksi ke Rp16.749 per Dolar AS

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pagi ini. Rupiah dibuka melemah sebesar 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.749 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.736 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melemah 0,06% ke 99,53. Sementara itu, sejumlah mata uang di kawasan Asia dibuka bervariasi. Mata uang yen […]

  • Harga Sembako di Pasar Angso Duo 27 Maret 2026 Stabil, Cabe Rawit Hijau Turun 10 Persen

    Harga Sembako di Pasar Angso Duo 27 Maret 2026 Stabil, Cabe Rawit Hijau Turun 10 Persen

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga bahan pokok di Pasar Angso Duo terpantau relatif stabil pada Jumat (27/3/2026). Berdasarkan data resmi dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, mayoritas komoditas tidak mengalami perubahan harga signifikan. Meski demikian, terdapat satu komoditas yang mengalami penurunan cukup mencolok, yakni cabai rawit hijau yang turun sekitar 10 persen. Harga cabai rawit hijau […]

expand_less