Bukan Sekadar Kuliner, Ini Alasan Bisnis Nongkrong Makin Penting di Kota Jambi
- account_circle say say
- calendar_month 52 menit yang lalu
- print Cetak

Suasan tongkrongan ala Gen Z.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Bisnis nongkrong di Kota Jambi semakin menarik dilihat bukan hanya sebagai bisnis makanan dan minuman, tetapi sebagai bagian dari komunitas konsumsi masyarakat. Ketika konsumen datang ke sebuah coffee shop atau kawasan kuliner, pengeluaran yang tercipta tidak berhenti pada makanan dan minuman, tetapi dapat berkaitan dengan transportasi, parkir, hiburan, hingga aktivitas belanja lainnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Provinsi Jambi tumbuh 4,93 persen sepanjang 2025, meningkat dari 4,50 persen pada 2024. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp349,66 triliun dengan PDRB per kapita Rp92,79 juta.
Memasuki 2026, ekonomi Jambi masih mencatat pertumbuhan. Pada triwulan I-2026, ekonomi tumbuh 4,33 persen secara tahunan, dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp88,80 triliun.
BPS juga menerbitkan Analisis Pola Konsumsi Masyarakat Provinsi Jambi 2025 pada Maret 2026. Publikasi tersebut menggunakan pengeluaran dan konsumsi rumah tangga untuk membaca kondisi kesejahteraan serta pola konsumsi masyarakat hingga tingkat kabupaten/kota.
Perkembangan bisnis nongkrong juga terlihat dari bagaimana sejumlah tempat di Jambi dipasarkan bukan sekadar sebagai tempat membeli kopi, tetapi sebagai ruang berkumpul. Konten YouTube lokal mengenai coffee shop di Jambi, misalnya, menonjolkan unsur desain, ruang outdoor, suasana, makanan dan aktivitas nongkrong sebagai bagian dari daya tarik tempat.
Fenomena tersebut sejalan dengan langkah Pemerintah Kota Jambi mengembangkan kawasan wisata kuliner Kota Tua. Kawasan ini resmi diluncurkan pada April 2026 sebagai destinasi yang menggabungkan sejarah, kuliner dan ekonomi kreatif. Pemerintah juga melibatkan UMKM serta mengaktifkan kawasan perdagangan pada malam hari.
Sebelumnya, Pemkot Jambi juga menjalankan program Jambi Night Market yang melibatkan 52 UMKM di kawasan Pasar Sitimang untuk menghidupkan aktivitas perdagangan dan ekonomi kreatif.
Data tersebut tidak berarti bahwa harga makanan atau minuman menjadi tidak penting. Namun, perkembangan kawasan kuliner menunjukkan bahwa keputusan kunjungan dapat dipengaruhi lebih dari sekadar produk.
Konsumen dapat datang untuk makan, tetapi kemudian menghabiskan waktu untuk berbincang, bekerja, bertemu komunitas, membuat konten atau mengikuti kegiatan tertentu.
Dengan kata lain, produk yang dijual bukan hanya kopi atau makanan, tetapi juga ruang dan pengalaman.
Di sinilah konsep experience economy menjadi relevan. Semakin lama konsumen berada di sebuah tempat dan semakin banyak aktivitas yang dilakukan, semakin besar peluang terciptanya transaksi tambahan.
Bagi pelaku usaha, kondisi ini mengubah cara menilai lokasi. Kawasan ramai memang penting, tetapi pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang datang, berapa lama mereka tinggal, dan apa yang mereka lakukan selama berada di kawasan tersebut?
Bagi pengembang kawasan komersial, konsep ini membuka peluang membangun tenant mix yang saling menguatkan. F&B dapat menciptakan traffic, entertainment memperpanjang durasi kunjungan, retail menangkap transaksi lanjutan, sementara event dan komunitas menciptakan alasan bagi konsumen untuk kembali.
Kota Tua Jambi memberikan contoh bagaimana aktivitas kuliner dikembangkan menjadi bagian dari strategi menghidupkan kawasan. Dengan operasional yang dirancang setiap hari pada sore hingga malam, kawasan tersebut diarahkan bukan hanya menjadi tempat makan, tetapi juga ruang ekonomi dan interaksi masyarakat.
Pada akhirnya, bisnis nongkrong di Jambi tidak lagi hanya bicara tentang berapa gelas kopi yang terjual. Nilai ekonominya juga terletak pada berapa banyak orang yang datang, berapa lama mereka tinggal, apa aktivitas mereka, dan bisnis lain apa yang ikut mendapatkan manfaat dari traffic tersebut.
- Penulis: say say
