Selasa, 22 Sep 2026
light_mode
Beranda » Internasional » Boeing Rugi Rp89,8 Triliun, Akibat Penundaan Pesawat 777X hingga 2027 dan Denda Jumbo

Boeing Rugi Rp89,8 Triliun, Akibat Penundaan Pesawat 777X hingga 2027 dan Denda Jumbo

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Perusahaan pesawat raksasa asal Amerika Serikat, Boeing Co, kembali mencatat kerugian besar pada kuartal ketiga 2025. Dalam laporan keuangannya, Boeing mengalami kerugian hingga USD 5,4 miliar atau sekitar Rp89,84 triliun (kurs Rp16.640 per USD). Kerugian tersebut terjadi akibat penundaan pengiriman pesawat jet berbadan lebar 777X, yang kini diperkirakan baru akan dikirimkan pada tahun 2027. Selain itu, Boeing juga harus menanggung denda dan kompensasi kepada pelanggan atas keterlambatan tersebut.

Pesawat Boeing 777X merupakan proyek andalan yang diharapkan mampu menjadi penerus kesuksesan seri 777 sebelumnya. Namun, pengembangan pesawat ini terus terhambat sejak penerbangan perdananya pada tahun 2020. Awalnya, pengiriman 777X dijadwalkan pada 2021. Namun, proses sertifikasi yang rumit serta masalah teknis membuat jadwal itu terus mundur. Kini, Boeing memastikan pengiriman baru akan dimulai pada 2027, enam tahun lebih lambat dari rencana awal.

Menurut laporan DW pada Kamis (30/10/2025), penundaan tersebut berimbas besar terhadap kondisi keuangan perusahaan. Boeing harus membayar denda hingga USD 5 miliar (sekitar Rp83,18 triliun) dan mengalami tambahan biaya produksi. CEO Boeing, Kelly Ortberg, dalam keterangan resminya mengatakan perusahaan masih berupaya menyelesaikan proses sertifikasi dan pemulihan keuangan.

“Pesawat 777X menunjukkan performa baik dalam uji terbang. Kami tetap berkomitmen menyelesaikan pengembangan pesawat ini dan memastikan keselamatan serta kualitas terbaik bagi pelanggan,” ujar Ortberg dikutip dari CNBC.

Ia menambahkan, prioritas utama Boeing saat ini adalah menstabilkan rantai pasok, memperbaiki sistem produksi, dan mengembalikan kepercayaan publik setelah serangkaian masalah yang melanda perusahaan beberapa tahun terakhir.

Selain penundaan 777X, Boeing juga masih berjuang memulihkan reputasinya setelah insiden jatuhnya pesawat 737 MAX pada 2018 dan 2019 yang menewaskan ratusan orang. Kasus tersebut membuat Boeing menghadapi berbagai gugatan hukum dan sanksi denda dari regulator penerbangan global.

Perusahaan bahkan sempat menghentikan produksi 737 MAX selama lebih dari setahun, menyebabkan kerugian puluhan miliar dolar AS. Hingga kini, sebagian besar maskapai dunia masih berhati-hati dalam menerima pengiriman pesawat baru dari Boeing.

Dalam laporan keuangan kuartal III 2025, pendapatan Boeing tercatat turun 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Investor juga menunjukkan reaksi negatif. Saham Boeing di bursa New York (NYSE: BA) anjlok hampir 8 persen setelah laporan kerugian diumumkan.

Analis menilai, jika penundaan 777X terus berlanjut, Boeing berisiko kehilangan pangsa pasar di segmen pesawat wide-body yang kini mulai dikuasai oleh Airbus A350 dari Eropa.

“Setiap penundaan berarti kehilangan peluang kontrak miliaran dolar. Airbus kini selangkah lebih depan dalam inovasi dan pengiriman tepat waktu,” kata analis penerbangan dari AeroDynamic Advisory, Richard Aboulafia.

Boeing 777X merupakan pesawat berbadan lebar terbesar di dunia, dengan kapasitas hingga 426 penumpang dan jangkauan terbang mencapai 14.000 km tanpa henti. Pesawat ini menggabungkan efisiensi bahan bakar 12 persen lebih baik dibandingkan pendahulunya dan dilengkapi sayap lipat pertama di dunia untuk pesawat komersial.

Proyek ini semula digadang-gadang menjadi “penyelamat” Boeing pascapandemi COVID-19. Namun, masalah sertifikasi dan pengujian struktur membuat produksinya terus tertunda.

Pemerintah Amerika Serikat disebut mulai memberikan perhatian serius terhadap kondisi keuangan Boeing.
Sebagai salah satu kontraktor pertahanan terbesar AS, stabilitas Boeing dinilai penting tidak hanya bagi sektor sipil, tapi juga industri militer dan luar angkasa. Namun, analis memperingatkan bahwa tanpa reformasi besar di internal, Boeing berisiko kehilangan posisi strategisnya di pasar global.

“Masalah utama Boeing bukan hanya penundaan, tapi juga kultur manajemen yang lambat beradaptasi,” tulis The Wall Street Journal.

  • Penulis: syaiful amri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekonomi China Melambat Tajam pada Oktober 2025, Investasi dan Industri Tertekan Krisis Properti

    Ekonomi China Melambat Tajam pada Oktober 2025, Investasi dan Industri Tertekan Krisis Properti

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Perekonomian China kembali menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan pada Oktober 2025. Serangkaian data terbaru yang dirilis Biro Statistik Nasional China (NBS) menegaskan bahwa pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih rapuh, terutama akibat krisis properti berkepanjangan, lemahnya permintaan domestik, hingga tekanan eksternal dari melemahnya ekonomi global. Kondisi ini menambah kekhawatiran investor dan pelaku pasar […]

  • Harga Sembako di Pasar Rakyat Kasang Jambi Masih Stabil

    Harga Sembako di Pasar Rakyat Kasang Jambi Masih Stabil

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga kebutuhan pokok di Pasar Rakyat Kasang, Kota Jambi, terpantau relatif stabil pada pembaruan terakhir Kamis (22/1/2026). Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, tidak terdapat lonjakan maupun penurunan signifikan pada mayoritas komoditas pangan strategis. Komoditas beras berbagai merek seperti Beras Naruto, Anggur, Belido, King, OP Bulog, dan Tiga Kartu tercatat dijual […]

  • Menteri LH: Pola Makan Perkotaan Picu Longsor di Lereng Bandung Barat

    Menteri LH: Pola Makan Perkotaan Picu Longsor di Lereng Bandung Barat

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut perubahan pola makan masyarakat perkotaan turut menjadi pemicu terjadinya longsor di lereng Bandung Barat, Jawa Barat. Perubahan tersebut berdampak pada alih fungsi lahan di kawasan pegunungan yang seharusnya berfungsi sebagai wilayah lindung. Hanif mengatakan, urbanisasi masif mendorong pergeseran kebutuhan pangan masyarakat kota. Akibatnya, aktivitas pertanian merambat […]

  • 70 Hektare Sawah Gagal Panen akibat Banjir di Gayo Lues Aceh

    70 Hektare Sawah Gagal Panen akibat Banjir di Gayo Lues Aceh

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan banjir yang melanda Kabupaten Gayo Lues akibat rusaknya bendungan dan tanggul desa telah merendam sekitar 70 hektare lahan pertanian warga. “Dampak material rusaknya fasilitas bendungan Desa Ulun Tanoh, Kecamatan Kuta Panjang, terdampak 68 hektare lahan persawahan sehingga gagal panen,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBA Aceh Fadmi Ridwan […]

  • Emas Pegadaian Kompak Naik, UBS dan Galeri24 Melonjak Tajam

    Emas Pegadaian Kompak Naik, UBS dan Galeri24 Melonjak Tajam

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pergerakan harga emas di Pegadaian terpantau kompak naik pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Dari tiga jenama logam mulia yang banyak diburu masyarakat, yakni UBS, Antam, dan Galeri24, dua di antaranya bahkan mencatat lonjakan cukup signifikan. Dikutip dari laman Sahabat Pegadaian, produk emas UBS dan Galeri24 masing-masing naik Rp9000 per gram. Kenaikan tersebut membawa harga […]

  • Cadangan Devisa RI Tembus US6,5 Miliar di Desember 2025

    Cadangan Devisa RI Tembus US$156,5 Miliar di Desember 2025

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Desember 2025 mencapai US$156,5 miliar. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan posisi November 2025 yang tercatat sebesar US$150,1 miliar. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, kenaikan cadangan devisa tersebut ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk […]

expand_less