Rupiah Mandek di Rp17.748 per Dolar AS, Pasar Masih Wait and See
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat pada perdagangan pagi Jumat (21/8/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak datar pada pembukaan perdagangan Jumat (21/8/2026). Mata uang Indonesia bertahan di level Rp17.748 per dolar AS, sama persis dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Mengutip Antara, rupiah tercatat tidak mengalami perubahan atau menguat maupun melemah 0 poin atau 0,00 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.748 per dolar AS.
Pelaku pasar kini mencermati sejumlah sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah sepanjang perdagangan. Arah dolar AS, kondisi pasar keuangan global, serta perkembangan ekonomi dalam negeri menjadi perhatian investor.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan kurs rupiah hari ini akan dipengaruhi rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026.
“Bank Indonesia dijadwalkan merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2Q26 hari ini,” ucapnya.
Pihaknya memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) melebar menjadi 3,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dari 1,09 persen terhadap PDB pada kuartal I-2026.
Pelebaran defisit, katanya, terutama didorong oleh peningkatan musiman pada arus keluar pendapatan primer, khususnya pembayaran imbal hasil atas aset domestik kepada non-residen, serta memburuknya kinerja neraca barang seiring dengan tercatatnya defisit perdagangan pada Mei dan Juni 2026.
Di samping itu, sentimen lain berasal dari pengumuman program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah AS berjangka panjang.
Operasi tersebut bertujuan menurunkan imbal hasil obligasi jangka panjang yang sebelumnya terus naik mencapai level tertinggi dalam 20 bulan (obligasi 10 tahun AS). Dengan imbal hasil obligasi AS yang menurun, maka membuat dolar AS lebih kurang menarik.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.700-Rp17.825 per dolar AS.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
