Kenapa Banyak Lulusan SMK di Jambi Nganggur? TPT Capai 7,95 Persen, Ini Masalahnya
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Ilustrasi siswa SMK di Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dirancang untuk menyiapkan lulusan agar memiliki keterampilan dan lebih mudah masuk dunia kerja. Namun, di Provinsi Jambi, lulusan SMK masih menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan pekerjaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK pada Agustus 2025 mencapai 7,95 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok pendidikan lainnya dalam data ketenagakerjaan Jambi.
Kondisi ini menarik karena secara nasional pendidikan vokasi justru diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai.
Di Jambi, persoalannya bukan semata-mata karena lulusan SMK tidak memiliki keterampilan. Ada persoalan yang lebih kompleks, mulai dari kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, terbatasnya lapangan kerja formal, hingga pengalaman kerja lulusan baru.
BPS Jambi mencatat TPT pada Februari 2026 sebesar 3,99 persen, turun 0,50 persen poin dibandingkan Februari 2025. Jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 mencapai 1,87 juta orang, sedangkan penduduk yang bekerja sekitar 1,80 juta orang.
Artinya, secara keseluruhan pengangguran di Jambi mengalami penurunan.
Namun, persoalan lulusan SMK masih perlu mendapat perhatian. Data BPS Jambi dari Sakernas Agustus 2025 menunjukkan TPT lulusan SMK mencapai 7,95 persen, jauh lebih tinggi dibanding TPT provinsi pada periode yang sama yang berada di 4,26 persen.
Dengan kata lain, tantangan mendapatkan pekerjaan bagi lulusan SMK relatif lebih berat dibandingkan gambaran umum pasar kerja Jambi.
Kenapa Lulusan SMK Sulit Mendapat Pekerjaan? Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.
SMK memang membekali siswa dengan keterampilan berdasarkan bidang keahlian. Namun, kebutuhan industri berubah cepat mengikuti perkembangan teknologi dan kondisi ekonomi.
Ketika kompetensi yang dimiliki lulusan tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan, ijazah SMK belum otomatis membuat seseorang langsung terserap ke pasar kerja.
Bahkan, BPS Provinsi Jambi sebelumnya telah menyoroti pentingnya koordinasi antara pemerintah, Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK dan dunia usaha untuk memperkuat penempatan tenaga kerja serta menciptakan link and match di pasar kerja.
Struktur ekonomi dan pasar kerja Jambi juga menjadi bagian penting untuk memahami persoalan ini.
BPS mencatat pada Agustus 2025, lapangan pekerjaan utama di Jambi masih didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, dengan kontribusi sekitar 43,36 persen terhadap penyerapan tenaga kerja.
Pada saat yang sama, sebanyak 57,27 persen pekerja berada di sektor informal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar kerja Jambi memiliki karakter yang berbeda dengan daerah yang ekonominya lebih banyak ditopang industri manufaktur atau sektor teknologi.
Bagi lulusan SMK yang mengambil jurusan otomotif, teknik, teknologi informasi, bisnis atau keahlian lainnya, pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikan belum tentu tersedia dalam jumlah besar di daerah tempat mereka tinggal.
Akibatnya, lulusan memiliki beberapa pilihan: bekerja tidak sesuai jurusan, masuk sektor informal, berwirausaha, mencari pekerjaan ke luar daerah, atau menganggur sambil menunggu pekerjaan yang dianggap sesuai.
BPS mencatat ekonomi Provinsi Jambi sepanjang 2025 tumbuh 4,93 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang sebesar 4,50 persen. Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah transportasi dan pergudangan sebesar 8,88 persen.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti seluruh kelompok lulusan pendidikan langsung mendapatkan pekerjaan.
Sektor yang tumbuh belum tentu membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Begitu pula pekerjaan yang tersedia belum tentu sesuai dengan kompetensi lulusan SMK.
Inilah salah satu tantangan yang perlu dijawab pemerintah daerah bersama sekolah dan dunia usaha.
Besarnya sektor informal di Jambi juga menunjukkan bahwa dunia kerja tidak hanya berada di perusahaan besar.
UMKM dapat menjadi salah satu alternatif bagi lulusan SMK, terutama bagi mereka yang memiliki keterampilan teknis dan kemampuan kewirausahaan.
Lulusan jurusan otomotif, misalnya, dapat membuka bengkel. Lulusan tata boga dapat mengembangkan usaha makanan. Lulusan desain atau multimedia dapat menawarkan jasa desain dan produksi konten. Sementara lulusan bidang teknologi informasi dapat mengembangkan jasa digital.
Artinya, pendidikan SMK tidak harus berujung pada posisi sebagai karyawan.
Namun, agar lulusan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, kemampuan teknis perlu dilengkapi dengan keterampilan bisnis, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, serta kemampuan membaca peluang pasar.
BPS Jambi juga mencatat bahwa 46,21 persen penduduk bekerja pada kegiatan formal pada Februari 2026, meningkat 1,55 persen poin dibandingkan Februari 2025.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perbaikan kualitas penyerapan tenaga kerja, tetapi tantangan lulusan SMK masih membutuhkan kebijakan yang lebih spesifik.
Sekolah perlu mengetahui jenis tenaga kerja yang benar-benar dibutuhkan perusahaan.
Industri juga perlu lebih aktif memberikan masukan terhadap kurikulum, menyediakan tempat praktik kerja, membuka rekrutmen bagi lulusan baru, serta memberikan sertifikasi yang benar-benar dibutuhkan.
Sementara pemerintah daerah dapat memperkuat sistem informasi pasar kerja agar sekolah memiliki gambaran mengenai kebutuhan tenaga kerja di setiap sektor ekonomi.
Tingginya TPT lulusan SMK di Jambi tidak otomatis berarti pendidikan SMK gagal. Angka 7,95 persen justru menjadi sinyal bahwa masih ada jarak antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja.
Apalagi, secara keseluruhan TPT Jambi telah turun menjadi 3,99 persen pada Februari 2026. Artinya, masalahnya semakin spesifik: bagaimana memastikan lulusan SMK mendapatkan akses terhadap pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan mereka.
Ke depan, keberhasilan pendidikan vokasi di Jambi tidak cukup diukur dari berapa banyak siswa yang lulus.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak lulusan yang bekerja, apakah pekerjaannya sesuai kompetensi, berapa lama mereka menunggu pekerjaan, dan apakah sebagian lainnya mampu menciptakan usaha sendiri.
Sebab, lulusan SMK seharusnya bukan hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga bisa menjadi tenaga terampil sekaligus pencipta lapangan kerja baru di Jambi.
- Penulis: say say
