Rabu, 9 Sep 2026
light_mode
Beranda » Regional » Murni dan Capitol, Dua Bioskop Tertua di Kota Jambi yang Menyimpan Sejarah Besar

Murni dan Capitol, Dua Bioskop Tertua di Kota Jambi yang Menyimpan Sejarah Besar

  • account_circle say say
  • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Jauh sebelum hadirnya layanan streaming seperti Netflix, Disney+ atau bioskop modern di pusat perbelanjaan, masyarakat Jambi memiliki budaya menonton film yang sangat kuat. Pada era 1970-an hingga akhir 1990-an, bioskop menjadi pusat hiburan masyarakat sekaligus ruang berkumpul lintas generasi. Setiap akhir pekan, antrean panjang penonton menjadi pemandangan biasa di depan gedung-gedung bioskop yang tersebar di Kota Jambi hingga berbagai kabupaten.

Bahkan, berdasarkan data resmi statistik Provinsi Jambi, industri bioskop di daerah ini pernah mencapai masa keemasan dengan jumlah penonton yang menembus lebih dari satu juta orang dalam setahun. Fakta tersebut menunjukkan bahwa bioskop pernah menjadi salah satu sektor hiburan terbesar di Provinsi Jambi.

Namun, sejarah bioskop di Jambi ternyata tidak hanya berkaitan dengan dunia hiburan. Beberapa gedung bioskop justru menjadi saksi lahirnya sejarah penting pembentukan Provinsi Jambi.

BACA JUGA : Sejarah Bioskop di Jambi: Kisah Lie Chong dan Arwin Lie Membangun Jaringan 20 Bioskop

Sejarah mencatat, dua bioskop tertua di Kota Jambi adalah Bioskop Murni dan Bioskop Capitol. Kedua bangunan tersebut telah berdiri sejak awal dekade 1950-an. Bioskop Murni yang berada di kawasan Murni tidak hanya digunakan sebagai tempat pemutaran film, tetapi juga menjadi lokasi Kongres Pasirah se-KKeresidenan Jambi pada 16 hingga 18 Januari 1955. Kongres tersebut menjadi salah satu tonggak perjuangan masyarakat Jambi untuk membentuk provinsi sendiri yang terpisah dari Sumatera Tengah.

Sementara itu, Bioskop Capitol, yang kemudian berganti nama menjadi Bioskop Duta, menjadi tempat berlangsungnya Kongres Rakyat Jambi pada 15 Juni 1955. Dari gedung inilah berbagai tokoh masyarakat, pemuda, dan organisasi menyuarakan aspirasi agar Jambi menjadi provinsi yang berdiri sendiri. Artinya, bioskop pada masa itu bukan hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga ruang politik dan sejarah yang ikut mengantarkan lahirnya Provinsi Jambi.

Memasuki akhir 1960-an hingga awal 1970-an, industri bioskop di Jambi mulai berkembang pesat. Salah satu tokoh penting di balik perkembangan tersebut adalah Lie Chong, seorang perantau asal Tiongkok yang datang ke Jambi pada 1934. Setelah bisnis keluarga berkembang, tongkat estafet diteruskan oleh putranya, Arwin Lie.

Sekitar tahun 1969 hingga 1970, Arwin Lie mengambil alih sebuah gedung bioskop yang sempat terbengkalai. Setelah direnovasi, gedung tersebut dibuka kembali dengan nama Bioskop Mega. Kehadiran Bioskop Mega menjadi titik awal lahirnya jaringan bioskop terbesar di Provinsi Jambi.

Kesuksesan Bioskop Mega kemudian diikuti dengan pembangunan sejumlah bioskop lain di Kota Jambi, seperti Bioskop Ria, Bioskop President I dan President II, Bioskop Duta, Bioskop Sumatera, Mayang Theatre, Bioskop Sitimang, hingga Telanai 21.

Pada masa itu, hampir setiap kawasan strategis di Kota Jambi memiliki bioskop sendiri. Bioskop President I dan II yang berada di kawasan Pasar Jambi atau Pasar Tingkat menjadi salah satu yang paling ramai. Bioskop tersebut diresmikan pada 27 November 1989 oleh Wali Kota Jambi saat itu, Azhari. Sementara Bioskop Sumatera berdiri di sekitar kawasan Stadion KONI, Mayang Theatre berada di sekitar Stadion Persijam, sedangkan Sitimang melayani masyarakat kawasan Talang Banjar.

Keberhasilan mengembangkan bioskop di Kota Jambi mendorong ekspansi ke berbagai daerah. Jaringan bioskop kemudian hadir di hampir seluruh kabupaten. Di Muara Bungo berdiri Bioskop Bungo Indah dan Serunai Baru. Di Bangko terdapat Bioskop Merangin Jaya, sedangkan Sarolangun memiliki Bioskop Saroja. Di Kerinci berdiri Bioskop Chandra, sementara masyarakat Kuala Tungkal menikmati film di Bioskop Dewi.

Tidak hanya itu, masyarakat Sabak memiliki Bioskop Medahara, Nipah Panjang memiliki Bioskop Setia Bhakti, Muara Tebo memiliki Bioskop Sederhana, Rantau Panjang memiliki Bioskop Semayo Indah, sedangkan kawasan Bajubang, Tempino, dan Tembesi juga pernah memiliki bioskop sendiri.

Penyebaran bioskop hingga ke berbagai daerah tersebut menunjukkan bahwa budaya menonton film pada masa itu tidak hanya berkembang di ibu kota provinsi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kabupaten-kabupaten.

Masa keemasan bioskop di Jambi mencapai puncaknya pada awal dekade 1980-an. Berdasarkan data Kantor Statistik Provinsi Jambi, pada tahun 1981 terdapat 12 bioskop aktif yang berhasil menarik 1.079.532 penonton dalam satu tahun.

Setahun kemudian, industri bioskop justru mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pada 1982 jumlah bioskop meningkat menjadi 15 gedung, sementara jumlah penonton melonjak hingga 1.226.236 orang. Angka tersebut menjadi salah satu pencapaian tertinggi sepanjang sejarah perfilman di Provinsi Jambi.

Perkembangan itu masih berlanjut pada 1983 dan 1984. Pada kedua tahun tersebut jumlah bioskop kembali bertambah menjadi 16 gedung, sementara jumlah penonton tetap berada di atas satu juta orang, yakni 1.113.610 penonton pada 1983 dan 1.114.753 penonton pada 1984.

Namun, memasuki pertengahan dekade 1980-an, industri bioskop mulai menunjukkan penurunan. Pada 1985 jumlah bioskop berkurang menjadi 14 dengan total penonton sekitar 898 ribu orang. Penurunan berlanjut pada 1986 ketika hanya tersisa 13 bioskop aktif dengan jumlah penonton sekitar 802 ribu orang. Meski sempat meningkat menjadi 14 bioskop pada 1987, jumlah penonton hanya mencapai sekitar 827 ribu orang, jauh lebih rendah dibandingkan masa kejayaannya beberapa tahun sebelumnya.

Pada era tersebut, bioskop menjadi pusat hiburan masyarakat. Film yang diputar sangat beragam, mulai dari film Hollywood, Mandarin, Bollywood, film laga Indonesia, hingga film komedi dan film remaja. Menariknya, promosi film masih dilakukan secara tradisional. Poster film dilukis secara manual dalam ukuran besar, kemudian diarak menggunakan mobil keliling sambil mengumumkan jadwal penayangan melalui pengeras suara. Salah satu pelukis poster film yang terkenal pada masa itu adalah Harkopo Lie, yang kini menyimpan berbagai koleksi sejarah bioskop di Tempoa Art Gallery.

Memasuki dekade 1990-an hingga awal 2000-an, kejayaan bioskop perlahan mulai memudar. Kehadiran televisi swasta nasional, menjamurnya VCD dan DVD, maraknya pembajakan film, hingga berubahnya pola konsumsi hiburan masyarakat membuat satu per satu bioskop legendaris di Jambi menghentikan operasionalnya. Sebagian gedung beralih fungsi menjadi pertokoan, hotel, gudang, hingga bangunan komersial lainnya.

Setelah mengalami kevakuman selama beberapa tahun, industri bioskop di Jambi kembali bangkit melalui kehadiran jaringan bioskop modern. Kini masyarakat menikmati film di Cinema XXI Jambi Town Square (Jamtos), Cinema XXI WTC Batanghari, dan Cinépolis Lippo Plaza Jambi. Dengan teknologi digital, sistem suara mutakhir, dan konsep yang menyatu dengan pusat perbelanjaan, wajah perfilman di Jambi pun berubah mengikuti perkembangan zaman.

Meski demikian, nama-nama seperti Capitol, Murni, Mega, Ria, Duta, President, Sumatera, Mayang Theatre, Sitimang, Telanai 21, Dewi, Chandra, Merangin Jaya, Saroja, Bungo Indah, Serunai Baru, Medahara, Setia Bhakti, Sederhana, Semayo Indah, Bajubang, Tempino, dan Tembesi tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat. Bioskop-bioskop tersebut bukan sekadar bangunan tempat menonton film, tetapi merupakan bagian dari sejarah sosial, budaya, bahkan perjalanan politik Provinsi Jambi yang pernah menghidupkan kota dan menjadi ruang berkumpul bagi jutaan masyarakat selama puluhan tahun.

Sumber: Diolah dari arsip Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jambi, buku Sejarah Provinsi Jambi, serta berbagai referensi media dan dokumentasi sejarah, antara lain Jumardi Putra, Akurat.co, Medcom.id, Radar Jambi, dan Jambi Ekspres.

  • Penulis: say say

Rekomendasi Untuk Anda

  • 70 Hektare Sawah Gagal Panen akibat Banjir di Gayo Lues Aceh

    70 Hektare Sawah Gagal Panen akibat Banjir di Gayo Lues Aceh

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan banjir yang melanda Kabupaten Gayo Lues akibat rusaknya bendungan dan tanggul desa telah merendam sekitar 70 hektare lahan pertanian warga. “Dampak material rusaknya fasilitas bendungan Desa Ulun Tanoh, Kecamatan Kuta Panjang, terdampak 68 hektare lahan persawahan sehingga gagal panen,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBA Aceh Fadmi Ridwan […]

  • Pagi Ini Rupiah Melemah Jadi Rp16.726 per Dolar AS

    Pagi Ini Rupiah Melemah Jadi Rp16.726 per Dolar AS

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah dibuka melemah di awal perdagangan hari ini, Senin (17/11/2025). Rupiah dibuka melemah sebesar 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.726 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.707 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,08% ke level 99,38. Penurunan terhadap rupiah juga dialami mata uang di kawasan […]

  • Tertekan, Rupiah Dibuka Diposisi Rp16.685 per Dolar AS

    Tertekan, Rupiah Dibuka Diposisi Rp16.685 per Dolar AS

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah tertekan pada pembukaan perdagangan Senin (8/12/2025). Rupiah dibuka diposisi Rp16.685 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 37,50 poin atau 0,23 persen dibanding penutupan yang berada di level Rp 16.648 per dolar AS. Di saat yang sama indeks dolar AS melemah 0,11% ke 98,88. Sementara itu, nilai tukar negara Asia […]

  • Rupiah Tidak Loyo Lagi,  Berpeluang ke Level Ini

    Rupiah Tidak Loyo Lagi,  Berpeluang ke Level Ini

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat hari ini, Kamis (22/1/2026). Rupiah dibuka bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.929 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp 16.936 per dolar AS. Pada saat bersamaan, greenback terpantau bergerak di tempat alias stagnan. Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman […]

  • Ketua Percasi Jambi Lepas Lima Atlet ke Kejurnas Catur 2025 di Mamuju

    Ketua Percasi Jambi Lepas Lima Atlet ke Kejurnas Catur 2025 di Mamuju

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Pengprov Percasi) Jambi, Mario Liberty Siregar, secara resmi melepas lima atlet catur terbaik asal Provinsi Jambi yang akan berlaga pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur 2025 di Mamuju, Sulawesi Barat, yang digelar pada 8 hingga 12 November 2025 mendatang. Acara pelepasan berlangsung dengan khidmat di Raules Kafe […]

  • Purbaya Tegas Bantah Isu Kas Negara Rp120 Triliun: SAL APBN Masih Rp420 Triliun

    Purbaya Tegas Bantah Isu Kas Negara Rp120 Triliun: SAL APBN Masih Rp420 Triliun

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis keras isu yang menyebut kas negara hanya tersisa Rp120 triliun. Ia menyebut informasi tersebut sebagai kekeliruan fatal yang terus berulang di ruang publik. Menurut Purbaya, narasi tersebut muncul akibat salah tafsir terhadap pengelolaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dalam APBN. Ia menjelaskan, dana sekitar Rp300 triliun yang sebelumnya […]

expand_less