Selasa, 1 Sep 2026
light_mode
Beranda » Nasional » Sentimen Pasar Mulai Berbalik, Rupiah Menguat Rp17.980 per Dolar AS

Sentimen Pasar Mulai Berbalik, Rupiah Menguat Rp17.980 per Dolar AS

  • account_circle -
  • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengawali perdagangan Jumat (17/7/2026), rupiah dibuka menguat tipis namun mampu mempertahankan tren positif setelah beberapa hari bergerak fluktuatif.

Mengutip Antara, kurs rupiah menguat 6 poin atau sekitar 0,03 persen ke level Rp17.980 per dolar AS. Posisi ini lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.986 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau bergerak stabil di posisi 100,753. Setelah di perdagangan sebelumnya, indeks dolar AS menguat 0,28%.

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dinamika dolar AS di pasar global dan perkembangan konflik di Timur Tengah.

Dolar AS cenderung stabil pada perdagangan Jumat, tetapi berada di jalur pelemahan secara mingguan. Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat.

Data lain juga menunjukkan perekonomian AS masih cukup kuat, terutama dari kondisi pasar tenaga kerja yang stabil. Meski demikian, ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini setelah inflasi konsumen AS melandai pada Juni.

Namun, pejabat The Fed masih berhati-hati karena perbaikan inflasi baru terlihat dalam satu bulan, setelah sebelumnya bergerak naik selama beberapa bulan. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu dekat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli kini berada di level 11%, turun dari 25% pada pekan lalu. Pasar juga memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar 26 basis poin hingga Desember, lebih rendah dibandingkan 44 basis poin pada awal pekan ini.

Sentimen pasar turut dibayangi kembali memanasnya konflik antara Iran dan AS. Kedua negara saling meningkatkan serangan dalam sepekan terakhir hingga membuat kesepakatan gencatan senjata bulan lalu nyaris runtuh.

Eskalasi tersebut mendorong permintaan terhadap aset aman, termasuk dolar AS, sekaligus membawa harga minyak mendekati posisi tertinggi dalam satu bulan. Pelaku pasar juga menanti pidato Presiden AS Donald Trump yang berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah konflik tersebut.(*)

 

 

  • Penulis: -
  • Editor: Darmanto Zebua

Rekomendasi Untuk Anda

  • BI Tegaskan Fundamental Ekonomi RI Tetap Solid Meski Moody’s Negatif

    BI Tegaskan Fundamental Ekonomi RI Tetap Solid Meski Moody’s Negatif

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dari stabil ke negatif pada 5 Februari 2026 tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi RI. Menurut Perry, revisi outlook lebih dipengaruhi oleh risiko penurunan kepastian kebijakan yang bisa berdampak pada ekonomi jika berlanjut. Kinerja ekonomi domestik tetap solid, tercermin […]

  • Update Harga Emas Digital Hari Ini

    Update Harga Emas Digital Hari Ini

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga emas digital terpantau cenderung tergerus hari ini, Kamis (12/3/2026). Hal tersebut tidak terlepas dari pergerakan harga emas global dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, minat masyarakat terhadap emas digital terus bertumbuh. Investasi pada emas digital makin populer karena dapat diakses secara online, fleksibel, dan bisa membeli emas mulai dari nominal kecil. Ini […]

  • Belum Stabil, Rupiah masih Tersungkur Hari Ini!

    Belum Stabil, Rupiah masih Tersungkur Hari Ini!

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda melemah cukup tajam seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global. Pada perdagangan pagi ini, rupiah tercatat turun 69 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.483 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level […]

  • Jumlah UMKM di Batang Hari Tembus 14 Ribu Unit pada 2026, Naik 8 Persen

    Jumlah UMKM di Batang Hari Tembus 14 Ribu Unit pada 2026, Naik 8 Persen

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Batang Hari, Jambi, mengalami peningkatan sekitar 8 persen sepanjang 2026. Hingga pertengahan tahun ini, jumlah UMKM tercatat mencapai sekitar 14.000 unit, naik dari sekitar 13.000 unit pada 2025. Kepala Bidang Usaha Kecil Menengah Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disdagkop UKM) Kabupaten Batang Hari, […]

  • Arab Saudi Kepincut Proyek Bendungan di Indonesia

    Arab Saudi Kepincut Proyek Bendungan di Indonesia

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Arab Saudi dikabarkan tertarik berinvestasi pada proyek bendungan di Indonesia. Bahkan, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyebutkan, salah satu negara Timur Tengah tersebut ingin datang ke Indonesia. “Rata-rata sih proyek air ya, bendungan gitu-gitu,” ujar Dody dikutip dari Kompas.com, Senin (27/10/2025). Kendati demikian, Dody enggan menyebutkan proyek bendungan mana yang diincar Arab […]

  • Pertumbuhan Ritel Diprediksi Tertahan

    Pertumbuhan Ritel Diprediksi Tertahan

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Impor dan melemahnya daya beli diperkirakan bakal mempengaruhi pertumbuhan industri ritel tanah air. Menurut Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) pertumbuhan industri ritel pada 2025 akan tertahan di kisaran 6%. Kondisi tersebut lantaran ritel terdampak oleh tekanan di sektor garmen dan melemahnya daya beli pada pertengahan tahun. Solihin memproyeksikan semua sektor ritel akan tumbuh […]

expand_less