Indonesia Hentikan Impor Beras Industri Mulai 2026
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Rab, 31 Des 2025
- comment 0 komentar

FOTO: Ilustrasi Gudang Bulog
JAMBISNSI.COM – Pemerintah memastikan Indonesia tidak lagi melakukan impor beras untuk kebutuhan bahan baku industri pada 2026. Kebijakan ini mencakup beras pecah dan beras ketan pecah dengan tingkat keutuhan di bawah 15 persen yang selama ini digunakan sebagai bahan baku industri pangan.
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Neraca Komoditas (NK) Tahun 2026 yang dipimpin Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Dalam rapat itu, pemerintah menegaskan komitmen untuk mengutamakan pasokan dari hasil produksi petani dalam negeri.
Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kemenko Pangan Tatang Yuliono mengatakan, selain beras industri, pemerintah juga memastikan tidak ada impor untuk beras konsumsi maupun gula konsumsi pada 2026.
“Impor gula konsumsi tidak ada. Impor beras konsumsi juga tidak ada. Beras industri pun tidak jadi diimpor. Untuk konsumsi, kita hampir seluruhnya sudah swasembada,” ujar Tatang dalam keterangan resmi, Selasa (30/12/2025).
Dalam rapat tersebut juga ditegaskan bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor beras umum yang sebelumnya sempat ditugaskan kepada Perum Bulog untuk menambah stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Adapun pada 2025, pemerintah sempat menerbitkan kuota impor beras industri bagi 13 pelaku usaha swasta untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tepung beras dan bihun. Namun, kebijakan itu tidak dilanjutkan pada tahun depan.
Dengan dihentikannya impor beras industri, pemerintah mendorong pelaku usaha untuk mengoptimalkan bahan baku lokal, seperti beras pecah dan beras ketan pecah produksi dalam negeri. Pemerintah berharap bahan baku lokal mampu memenuhi spesifikasi industri, termasuk kadar amilosa, tingkat kebersihan, viskositas, serta tingkat kekerasan (hardness).
Selain beras, pemerintah juga memastikan tidak ada impor gula konsumsi pada 2026. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026 per 28 Desember 2025, carry over stock gula konsumsi dari 2025 ke 2026 diperkirakan mencapai 1,437 juta ton.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi gula nasional diperkirakan sebesar 2,836 juta ton per tahun. Dengan estimasi produksi gula konsumsi mencapai 2,7 juta hingga 3 juta ton, pemerintah menilai ketersediaan gula dalam negeri berada pada kondisi surplus yang cukup kuat.
Kebijakan serupa juga diterapkan pada komoditas jagung. Pemerintah memastikan tidak ada impor jagung pakan, benih, maupun jagung rumah tangga pada 2026. Stok jagung nasional dari sisa tahun sebelumnya diperkirakan mencapai 4,521 juta ton, meskipun terdapat potensi susut sekitar 831.600 ton.
Produksi jagung nasional pada 2026 diproyeksikan sebesar 18 juta ton, sedangkan kebutuhan tahunan sekitar 17,055 juta ton. Dengan demikian, pemerintah menilai pasokan jagung nasional tetap aman meski tanpa impor.
Kebijakan penghentian impor ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat swasembada pangan nasional serta meningkatkan serapan hasil produksi petani lokal.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar