Cabai Merah, Daging Ayam, hingga Bensin Jadi Biang Kerok Inflasi Jambi Juni 2026
- account_circle say say
- calendar_month 17 jam yang lalu
- print Cetak

Melihat komposisi penyumbang inflasi ini, tantangan terbesar pemerintah daerah ke depan adalah menjaga stabilitas harga pangan dan kelancaran distribusi barang. Penguatan stok pangan, operasi pasar, hingga koordinasi antardaerah menjadi langkah penting agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tidak terus tergerus.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Lonjakan harga sejumlah komoditas pangan dan energi menjadi penyebab utama inflasi di Provinsi Jambi pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat inflasi tahunan mencapai 3,85 persen, dengan kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan harga secara keseluruhan.
Kelompok makanan mengalami inflasi 6,65 persen dan memberikan andil 2,10 persen terhadap inflasi Provinsi Jambi. Artinya, lebih dari separuh laju inflasi berasal dari kenaikan harga kebutuhan pangan yang setiap hari dikonsumsi masyarakat.
BPS mencatat cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi terbesar. Selain cabai merah, kenaikan harga juga terjadi pada daging ayam ras, minyak goreng, jeruk, bawang merah, ikan serai, bayam, kangkung, tomat, telur ayam ras, daging sapi, dan cabai rawit. Komoditas-komoditas tersebut menjadi faktor dominan yang mendorong naiknya biaya hidup masyarakat selama Juni 2026.
Tak hanya bahan pangan, sektor transportasi juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi. Kelompok transportasi mengalami inflasi 3,93 persen, dipicu kenaikan harga bensin, mobil, pelumas atau oli mesin, angkutan udara, sepeda motor, hingga tarif kendaraan travel. Kelompok ini memberikan andil 0,48 persen terhadap inflasi tahunan Provinsi Jambi.
Di sektor jasa makanan, harga nasi dengan lauk, sate, ayam goreng, tekwan atau model, hingga ketupat/lontong sayur juga mengalami kenaikan. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mencatat inflasi 4,33 persen, dengan andil sebesar 0,40 persen terhadap inflasi tahunan.
Selain itu, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi 6,60 persen. Menariknya, kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar pada kelompok ini dengan kontribusi hampir 0,49 persen, diikuti tarif gunting rambut dan sejumlah produk perawatan pribadi lainnya.
Meski sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga, terdapat beberapa komoditas yang justru membantu menahan laju inflasi. Di antaranya beras, kentang, ikan nila, kelapa, tahu mentah, petai, udang basah, dan nanas yang memberikan andil terhadap deflasi pada kelompok makanan.
Melihat komposisi penyumbang inflasi tersebut, tantangan terbesar pemerintah daerah ke depan adalah menjaga stabilitas harga pangan dan kelancaran distribusi barang. Penguatan stok pangan, operasi pasar, hingga koordinasi antardaerah menjadi langkah penting agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tidak terus tergerus.
- Penulis: say say

