Dulu Rajanya Jalanan, Kini Tinggal Kenangan: Nasib Angkot Jambi!
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Angkutan Kota Jambi yang sempat jadi raja jalanan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Pernah ada masa ketika suara musik dari dalam angkutan kota (angkot) menjadi penanda ramainya jalanan Kota Jambi. Dari pagi hingga malam, angkot hilir mudik mengangkut pelajar, pegawai, hingga pedagang. Murah, mudah ditemukan, dan menjangkau hampir seluruh sudut kota. Namun kini, kejayaan itu perlahan memudar.
Sebagai ibu kota Provinsi Jambi, Kota Jambi dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi, pemerintahan, dan pendidikan. Mobilitas masyarakat yang tinggi membuat transportasi umum menjadi kebutuhan utama. Sebelum era transportasi online dan kendaraan pribadi berkembang pesat, angkot adalah pilihan favorit warga.
Saat itu, angkot benar-benar menjadi “raja terminal”. Jumlah armadanya sangat banyak dan menguasai hampir seluruh rute jarak dekat di dalam kota. Masyarakat cukup menunggu di tepi jalan, lalu naik angkot dengan ongkos yang ramah di kantong.
Armada yang digunakan pun hampir seragam, yakni Suzuki Carry dan Mitsubishi Colt T120SS. Penumpang duduk saling berhadapan dengan kapasitas sekitar tujuh hingga delapan orang. Di dalam kabin, alunan musik menjadi hiburan sederhana yang membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.
Beberapa sopir angkot mengakui bahwa armada yang masih aktif jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Tidak seperti dulu, sekarang cuma beberapa saja,” ujar seorang sopir angkot merah rute Pal Merah Lama yang meminta identitasnya tidak disebutkan baru-baru ini.
Masyarakat Kota Jambi juga dengan mudah mengenali tujuan angkot melalui warna bodinya.
Angkot kuning melayani rute Mayang, Simpang Rimbo, Kasang, hingga Tanjung Pinang.
Angkot biru melayani kawasan Sipin, Telanaipura, dan Broni.
Angkot hijau menghubungkan Jelutung, Kenali Asam, Kebun Handil, hingga Perumnas.
Sedangkan angkot merah melayani rute Talang Banjar, Silincah, Thehok, Beringin, Talang Bakung, Palmerah, Jerambah Bolong, hingga Chandra.
Pada masanya, sistem warna tersebut sangat memudahkan masyarakat menentukan tujuan perjalanan. Bahkan bagi pendatang, cukup melihat warna angkot untuk mengetahui jalur yang dilalui.
Namun, wajah transportasi Kota Jambi berubah drastis dalam satu dekade terakhir. Kepemilikan sepeda motor dan mobil pribadi meningkat tajam. Di sisi lain, transportasi berbasis aplikasi menawarkan kemudahan, tarif yang kompetitif, serta layanan yang lebih praktis karena dapat dipesan langsung melalui telepon genggam.
Perubahan pola mobilitas masyarakat membuat jumlah penumpang angkot terus menurun. Banyak armada berhenti beroperasi karena pendapatan sopir tidak lagi mampu menutup biaya operasional. Terminal Rawasari yang dulu dipenuhi deretan angkot kini tak lagi seramai dahulu.
Saat ini memang masih ada angkot yang beroperasi di beberapa rute. Namun jumlahnya jauh berkurang dibanding masa kejayaannya. Waktu tunggu penumpang semakin lama, sementara frekuensi perjalanan juga semakin sedikit.
Fenomena ini menjadi potret perubahan zaman. Angkot yang dulu menjadi urat nadi transportasi Kota Jambi kini memasuki fase “mati suri”. Di tengah derasnya arus modernisasi, angkot bukan hanya kehilangan penumpang, tetapi juga perlahan kehilangan perannya sebagai ikon transportasi masyarakat.
Kini tinggal pertanyaan besar yang tersisa: apakah angkot Jambi masih bisa bangkit dengan konsep transportasi yang lebih modern, atau akan benar-benar menjadi bagian dari nostalgia yang hanya dikenang lewat cerita generasi lama?(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
