Rupiah Ngegas Pagi Ini! Loncat 54 Poin, Sentuh Rp18.134 per Dolar AS
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 13 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah. Pembukaan pagi ini mata uang Indonesia bergerak menguat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Angin segar berembus ke dunia usaha. Nilai tukar rupiah pada Selasa (9/6/2026) pagi dibuka menguat 54 poin atau 0,29 persen ke level Rp18.134 per dolar AS, dari sebelumnya Rp18.188 per dolar AS.
Penguatan ini langsung direspons pelaku usaha di Jambi. Sejumlah pengusaha mengaku mulai melihat celah untuk menekan biaya produksi, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.
“Kalau rupiah menguat seperti ini, tentu sangat membantu. Biaya impor bahan baku bisa sedikit ditekan, apalagi untuk usaha yang masih bergantung dari luar negeri,” ujar salah satu pelaku usaha di sektor perdagangan.
Meski penguatannya belum signifikan, pelaku usaha menilai tren ini menjadi sinyal positif. Harapan mulai tumbuh agar stabilitas nilai tukar bisa bertahan dalam beberapa waktu ke depan.
Sementara itu, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi meredanya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah (Timteng).
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak dunia oleh meredanya geopolitik di Timteng dimana Iran dan Israel untuk sementara waktu menghentikan penyerangan,” katanya dikutip dari Antara, Selasa (9/6/2026).
Mengutip Anadolu, pemerintah Iran mengumumkan untuk mengakhiri serangannya terhadap Israel, tetapi dengan mengancam respons keras jika rezim Israel kembali menyerang Lebanon.
Sebagaimana pernyataannya yang disiarkan Kantor Berita Tasnim, angkatan bersenjata Republik Islam Iran mengatakan bahwa Israel dan para pendukungnya “seharusnya mendapat” pelajaran dari respons Teheran yang dilakukan “demi mendukung rakyat Lebanon yang ditindas”.
Namun, mereka memperingatkan bahwa jika agresi Israel berlanjut, khususnya di Lebanon selatan, maka “tindakan yang jauh lebih parah dan menghancurkan akan menanti”.
Surat kabar Israeli Hayom melaporkan bahwa Tel Aviv dan Washington menyampaikan pesan kepada Teheran bahwa tidak akan ada serangan lanjutan dari Israel jika Iran tidak melanjutkan serangan.
“Namun, penguatan akan terbatas mengingat sentimen domestik yang masih negatif. Sentimen yang telah memburuk menjadi krisis kepercayaan,” ungkap Lukman.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
