8 Desa di Tanjab Timur Masih Tertinggal, Lima Berada di Kecamatan Sadu
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Jalan desa di Kecamatan Rantau Rasau Tanjung Jabung Timur
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Pemerataan pembangunan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih menyisakan pekerjaan rumah. Dari 73 desa yang tersebar di wilayah tersebut, delapan desa masih berstatus tertinggal. Yang menarik, persoalan itu tidak tersebar merata. Lima dari delapan desa tertinggal berada di Kecamatan Sadu. Sementara tiga lainnya masing-masing berada di Kecamatan Rantau Rasau, Mendahara dan Muara Sabak Timur.
Secara administratif, Kabupaten Tanjung Jabung Timur memang memiliki wilayah yang cukup luas. Kabupaten ini terdiri atas 11 kecamatan, 73 desa dan 20 kelurahan. Kecamatan Sadu sendiri berada di ujung wilayah dengan ibu kota di Sungai Lokan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Tanjab Timur, Budi Wahyu, mengatakan perkembangan desa di daerah itu cukup beragam. Dari total desa yang ada, sebanyak 21 desa berstatus maju, 41 desa berkembang, tiga desa mandiri dan delapan desa masih tertinggal.
“Untuk desa tertinggal tersebut, satu berada di Kecamatan Rantau Rasau, satu di Mendahara, satu di Muarasabak Timur dan lima di Kecamatan Sadu,” ujar Budi.
Status tertinggal, kata dia, tidak ditentukan hanya dari satu persoalan. Penilaiannya mencakup sejumlah aspek, mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan, infrastruktur hingga kondisi masyarakat dan potensi lokal.
Persoalan akses menjadi salah satu tantangan yang cukup penting. Di wilayah pedesaan, jalan bukan sekadar jalur penghubung. Jalan menentukan seberapa mudah warga menuju sekolah, fasilitas kesehatan, pasar hingga pusat pemerintahan. Ketika akses terbatas, hasil perkebunan, pertanian, perikanan maupun usaha masyarakat juga lebih sulit bergerak.
Data BPS melalui Statistik Potensi Desa Tanjung Jabung Timur 2025 memang menempatkan infrastruktur, potensi wilayah dan berbagai tantangan desa sebagai bagian penting dalam pemetaan kondisi desa. Publikasi tersebut merupakan hasil pemutakhiran Potensi Desa 2025.
Persoalan pembangunan juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi kesejahteraan masyarakat. BPS mencatat persentase penduduk miskin Tanjung Jabung Timur pada Maret 2024 masih berada di 10,14 persen, meski turun dari 10,85 persen pada 2023. Namun, indeks keparahan kemiskinan justru meningkat menjadi 0,76.
Artinya, pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan fisik. Akses jalan, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan kemampuan masyarakat mengembangkan potensi desa perlu bergerak bersamaan.
BPS sendiri dalam publikasi kesejahteraan rakyat 2025 menggunakan berbagai aspek, termasuk pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perumahan, lingkungan dan kemiskinan, untuk menggambarkan kondisi kesejahteraan masyarakat Tanjab Timur.
Delapan desa tertinggal tersebut akhirnya menjadi pengingat bahwa pembangunan Tanjab Timur belum selesai hanya dengan melihat angka desa maju dan mandiri. Di balik angka itu masih ada desa yang membutuhkan jalan lebih baik, akses layanan yang lebih dekat, ekonomi yang lebih hidup dan kesempatan yang lebih merata.
- Penulis: say say
