Zona Merah Berlanjut, Rupiah Tersungkur ke Level Rp17.952
- account_circle -
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Kurs rupiah kembali melemah di penutupan perdagangan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah belum mampu keluar dari zona merah. Hingga penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026), mata uang Indonesia jeblok terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 93 poin ke level Rp 17.952 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.859 per dolar AS.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.950 – Rp 18.020,” ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Rabu (24/6/2026).
Ibrahim mengungkapkan, bahwa rupiah melemah setelah ketegangan antara AS dan Iran kembali mereda di Timur Tengah. Baru-baru ini, AS memberikan Iran keringanan sanksi selama 60 hari setelah pembicaraan perdamaian awal. Namun, ketidakpastian tetap ada mengenai isu-isu kunci, termasuk inspeksi nuklir dan akses ke dana Iran yang dibekukan.
Rupiah juga melemah saat pasar mengantisipasi kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat.
“Para pedagang sekarang melihat probabilitas yang jauh lebih tinggi untuk pengetatan kebijakan The Fed dalam beberapa bulan mendatang, setelah pertemuan kebijakan minggu lalu dan komentar yang agresif dari para pejabat,” papar Ibrahim.
Fokus pasar pekan ini adalah indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), pada yang akan dirilis besok hari Kamis untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed.
Rupiah juga melemah meski pasar merespon positif terhadap MSCI yang menunda penilaian aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026. Peninjauan yang diperpanjang ini menyusul kekhawatiran yang muncul awal tahun ini mengenai aksesibilitas pasar, dengan penyedia indeks membekukan perubahan pada indeks ekuitas Indonesia pada Januari karena masalah investability.
“Dengan demikian, proses peninjauan terhadap status pasar Indonesia masih berlangsung dan akan menjadi salah satu perhatian utama para pelaku pasar dalam beberapa bulan ke depan,” imbuh Ibrahim.
Disisi lain, pemerintah mengalokasikan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun pada semester II 2026 sebagai langkah antisipatif menghadapi meningkatnya ketidakpastian global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
