Pinjol Tembus Rp101 Triliun, Sultan HB X Ingatkan Bahaya ‘Makan Utang’ di Era Digital
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat membuka Jogja Financial Festival 2026 dan menyoroti bahaya lonjakan pinjaman online.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Ledakan pinjaman online yang menembus Rp101 triliun memunculkan peringatan serius dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang menyebut fenomena ini sebagai tanda masyarakat mulai “makan utang” di tengah kemudahan akses keuangan digital.
Pernyataan itu disampaikan Sultan saat membuka Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Kamis, 22 Mei 2026. Menurut Sultan, kemajuan teknologi finansial tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan dalam mengelola keuangan. Akses yang semakin mudah justru berpotensi mendorong perilaku konsumtif dan ketergantungan utang.
“Pertanyaan mendasarnya, apakah akses itu membuat manusia berdaya, atau justru semakin mudah diarahkan oleh hasrat konsumsi, algoritma, dan utang yang tampak mudah?” ujar Sultan.
Sultan menekankan pentingnya literasi keuangan berbasis nilai budaya. Ia mengangkat falsafah Jawa “Gemi, Nastiti, Ngati-ati” sebagai fondasi menghadapi derasnya arus fintech.
Nilai “Gemi”, kata dia, bukan sekadar hemat, tetapi kemampuan menahan diri dari konsumsi impulsif, termasuk tren “beli sekarang bayar nanti”.
“Kebebasan finansial bukan soal kemampuan membeli, melainkan kemampuan menahan,” ujarnya.
Sementara “Nastiti” dimaknai sebagai kecermatan dalam mengambil keputusan keuangan. Sultan menyoroti data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan literasi keuangan masih 66,46 persen, tertinggal dari inklusi keuangan yang sudah mencapai 80,51 persen.
Kesenjangan ini, menurut dia, menandakan banyak masyarakat sudah menggunakan layanan keuangan tanpa memahami risikonya.
Nilai “Ngati-ati” atau kehati-hatian menjadi semakin relevan di tengah lonjakan pinjaman online.
Data menunjukkan outstanding pinjol nasional per Maret 2026 mencapai Rp101,03 triliun dengan lebih dari 26 juta peminjam aktif.
“Fenomena ‘makan utang’ membuktikan, kemudahan akses tanpa literasi justru mempercepat kesulitan,” kata Sultan.
- Penulis: say say

